Batik Jumputan Sebagai Media Kreatif Murid Dalam Pembelajaran Seni Rupa

Oleh : Anisa Luh Sakinah, S.Pd., M.Pd.

Pendahuluan

Seni rupa merupakan salah satu bagian dari pembelajaran yang dapat membantu murid dalam mengembangkan kognitif, kreativitas, keterampilan serta imajinasi untuk menghasilkan sebuah karya kriya 2 dimensi. Dalam proses pembelajaran seni rupa, murid tidak hanya dituntut untuk memahami teori, tetapi juga perlu diberikan kesempatan untuk bereksperimen ragam medium dan menghasilkan karya secara langsung. Salah satu kegiatan yang mudah dipraktikkan oleh murid adalah praktik membuat batik jumputan.

Batik jumputan merupakan salah satu teknik menghias kain dengan cara mengikat, melipat, atau menjumput bagian tertentu pada kain sebelum diberi warna. Teknik ini menghasilkan motif dan pola yang unik karena setiap proses pembuatan dapat menghasilkan bentuk yang berbeda. Selain mudah dilakukan, batik jumputan juga dapat menjadi media yang menarik bagi murid untuk mengekspresikan ide dan kreativitasnya.

Mengenal Batik Jumputan

Batik jumputan adalah karya seni kriya yang dibuat dengan teknik ikat dan celup. Bagian kain yang diikat atau dijumput akan terlindungi dari pewarna sehingga menghasilkan pola tertentu setelah ikatan dibuka. Motif yang muncul dapat berupa lingkaran, garis, bentuk abstrak, maupun pola lainnya. Istilah jumputan berasal dari kata “jumput”, yaitu mengambil atau mencubit sebagian kecil kain menggunakan jari. Bagian kain yang dijumput kemudian diikat agar tidak terkena pewarna.

Keunikan batik jumputan terletak pada hasil akhirnya yang tidak selalu dapat diprediksi secara tepat karena setiap proses pengikatan, dan pengaplikasian warna menghasilkan motif yang unik. Hal tersebut memberikan pengalaman menarik bagi murid karena mereka dapat mencoba berbagai teknik lipatan dan ikatan untuk menghasilkan motif yang berbeda.

Di Indonesia, batik jumputan berkembang cukup kuat, terutama di daerah Jawa dan Sumatra. Salah satu daerah yang terkenal dengan kain jumputan adalah Palembang, yang memiliki tradisi kain jumputan dengan motif dan warna yang khas. daerah Indonesia, teknik serupa dikenal

 

sebagai jumputan, pelangi, sasirangan, atau kain ikat, dengan karakter motif dan teknik yang berbeda-beda.

Batik Jumputan dalam Pembelajaran Seni Rupa

Penggunaan batik jumputan dalam pembelajaran seni rupa dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih aktif dan menyenangkan. Murid dapat mempelajari unsur seni rupa seperti warna, bentuk, pola, komposisi, dan tekstur melalui kegiatan praktik secara langsung.

Guru dapat memberikan kebebasan kepada murid untuk menentukan kombinasi warna serta pola yang ingin dibuat. Dengan demikian, setiap murid dapat menghasilkan karya yang memiliki karakter dan keunikan masing-masing. Proses tersebut juga mendorong murid untuk berani mencoba dan tidak takut melakukan kesalahan dalam berkarya.

Selain menghasilkan karya seni, kegiatan membuat batik jumputan dapat menjadi sarana untuk mengenalkan kekayaan budaya Indonesia. Murid dapat memahami bahwa seni tradisional dapat dipelajari dan dikembangkan melalui kreativitas dengan cara yang menyenangkan.

Alat, Bahan, dan Proses Pembuatan

Pembuatan batik jumputan dapat dilakukan menggunakan alat dan bahan yang relatif sederhana. Beberapa bahan yang dapat digunakan antara lain kain berwarna putih yang tidak mengkilap seperti katun prisma, pewarna tekstil (Remasol/ naptol/ bulan), karet gelang atau tali rafia, wadah botol 150 ml untuk pewarna, sarung tangan, dan air.

 

 

 

 

 

Langkah pembuatannya dimulai dengan menyiapkan kain dan menentukan pola. Setelah itu, kain dilipat, dijumput, atau diikat menggunakan karet maupun tali pada bagian-bagian tertentu. Kain kemudian diberi pewarna sesuai dengan warna yang diinginkan. Setelah proses pewarnaan selesai, ikatan dilepas dan kain dikeringkan. Hasil akhirnya akan memperlihatkan motif khas yang terbentuk dari bagian kain yang terlindungi selama proses pewarnaan.

 

Manfaat bagi Kreativitas Murid

Kegiatan membuat batik jumputan memiliki berbagai manfaat dalam pembelajaran seni rupa. Murid dapat mengembangkan kreativitas dengan mencoba berbagai bentuk, pola, dan perpaduan warna. Mereka juga belajar mengambil keputusan dalam menentukan desain, warna dan hasil karya yang ingin dibuat. Selain kreativitas, kegiatan ini dapat melatih ketelitian, kesabaran, dan koordinasi antara tangan dan mata. Murid juga belajar menghargai proses karena hasil batik jumputan membutuhkan beberapa tahapan sebelum menjadi karya yang siap digunakan. Kegiatan secara berkelompok dapat melatih kemampuan bekerja, kekompakan, dan percaya diri untuk menghasilkan karya seni. Murid dapat saling membantu dalam menyiapkan alat dan bahan, melakukan pewarnaan, proses mengikat maupun merapikan tempat setelah kegiatan selesai.

Kesimpulan

Batik jumputan adalah warisan teknik tekstil yang menggunakan prinsip perintangan warna melalui proses  menjumput,  melipat, dan  mengikat  kain sebelum  dilakukan  pencelupan.

 

Perkembangannya menunjukkan kemampuan masyarakat Indonesia dalam mengolah bahan tekstil menjadi karya yang memiliki nilai estetis, kreatif, ekonomis, dan budaya. Batik jumputan dapat menjadi media kreatif yang menarik dalam pembelajaran seni rupa. Melalui kegiatan membuat batik jumputan, murid tidak hanya belajar mengenai warna, pola, bentuk, dan teknik berkarya, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kreativitas dan keterampilan secara langsung.

Pembelajaran batik jumputan juga dapat menjadi salah satu cara untuk mengenalkan dan menumbuhkan rasa menghargai terhadap budaya Indonesia. Dengan kegiatan yang sederhana dan menyenangkan, murid dapat menghasilkan karya seni yang unik sekaligus memperoleh pengalaman belajar yang bermakna melalui berkarya seni.

Ketika Matematika Berefleksi: Mengenal Refleksi dalam Transformasi Geometri

Oleh: Nia Fitria Dewi, S.Pd.

Pernahkah kamu berdiri di depan cermin lalu memperhatikan bagaimana bayanganmu bergerak? Ketika kamu mengangkat tangan kanan, bayangan di cermin justru mengangkat tangan kiri. Bentuk dan ukurannya sama persis dengan dirimu, hanya saja posisinya seperti “dibalik”. Fenomena sederhana inilah yang menjadi dasar salah satu konsep penting dalam matematika, khususnya di bidang geometri transformasi: refleksi atau pencerminan.

Bagi siswa kelas XII, refleksi sering dianggap sebagai materi hafalan rumus. Padahal, jika dipahami dari akarnya, konsep ini justru sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari pantulan di permukaan air, simetri pada motif batik, desain logo, hingga cara kerja aplikasi pengeditan foto. Mari kita bedah konsep ini pelan-pelan, tanpa perlu merasa terintimidasi oleh rumus-rumusnya.

Apa Sebenarnya Refleksi Itu?

Secara sederhana, refleksi adalah proses “mencerminkan” suatu titik atau objek terhadap sebuah garis atau titik tertentu, yang biasa disebut cermin. Hasil pencerminan itu disebut bayangan.

Ada beberapa sifat khas yang selalu muncul setiap kali refleksi terjadi:

  • Bentuk dan ukuran objek asli dan bayangannya selalu sama persis tidak ada yang membesar atau menyusut.
  • Jarak objek ke cermin sama dengan jarak bayangan ke cermin.
  • Objek dan bayangannya berada di sisi yang berlawanan terhadap garis cermin.
  • Garis yang menghubungkan suatu titik dengan bayangannya selalu tegak lurus terhadap cermin.
  • Orientasinya terbalik, persis seperti tangan kanan yang menjadi tangan kiri di cermin.

Dengan kata lain, refleksi itu “adil”: ia tidak mengubah bentuk maupun ukuran, hanya memindahkan posisi objek ke sisi seberang secara simetris. Karena sifatnya yang konsisten inilah, refleksi bisa dihitung menggunakan rumus-rumus yang cukup sederhana, tergantung pada jenis cermin yang digunakan.

Enam Jenis Cermin dalam Bidang Koordinat

Dalam bidang koordinat, “cermin” yang digunakan bisa berupa titik pusat, sumbu X, sumbu Y, garis diagonal, atau bahkan garis vertikal dan horizontal sembarang. Yuk kita telusuri satu per satu.

1. Refleksi terhadap Titik Pusat O(0, 0)

Bayangkan titik pusat koordinat sebagai satu titik cermin. Setiap titik yang dicerminkan terhadapnya akan “dipantulkan” ke posisi yang benar-benar berlawanan, dengan jarak yang sama ke pusat.

Rumus: P(x, y) → P'(−x, −y)

Contoh: Titik A(3, 4) dicerminkan terhadap O(0, 0) akan menghasilkan bayangan A'(−3, −4). Perhatikan, kedua koordinatnya sama-sama berubah tanda seolah titik tersebut “diputar” 180° melewati pusat.

2. Refleksi terhadap Sumbu X

Sumbu X berperan sebagai cermin horizontal. Karena letaknya mendatar, posisi kiri-kanan (nilai x) tidak berubah, tetapi posisi atas-bawah (nilai y) akan terbalik.

Rumus: P(x, y) → P'(x, −y)

Contoh: Titik B(2, 5) dicerminkan terhadap sumbu X menjadi B'(2, −5). Titik yang tadinya berada di atas sumbu X, kini “jatuh” ke posisi yang sama di bawahnya.

3. Refleksi terhadap Sumbu Y

Kebalikan dari sumbu X, sumbu Y adalah cermin vertikal. Posisi atas bawah (nilai y) tetap, sedangkan posisi kiri-kanan (nilai x) berubah tanda.

Rumus: P(x, y) → P'(−x, y)

Contoh: Titik C(−3, 2) dicerminkan terhadap sumbu Y menjadi C'(3, 2). Titik yang semula di sisi kiri kini berpindah ke sisi kanan dengan jarak yang sama.

4. Refleksi terhadap Garis y = x

Garis y = x adalah garis diagonal yang membelah bidang koordinat menjadi dua bagian secara miring. Uniknya, refleksi terhadap garis ini membuat nilai x dan y saling bertukar tempat.

Rumus: P(x, y) → P'(y, x)

Contoh: Titik D(4, 1) dicerminkan terhadap garis y = x menjadi D'(1, 4). Sekilas terlihat seperti “membalik urutan” angkanya saja — dan memang sesederhana itu.

5. Refleksi terhadap Garis y = −x

Mirip dengan garis y = x, tetapi kali ini garis diagonalnya miring ke arah berlawanan. Selain bertukar tempat, kedua koordinat juga berubah tanda.

Rumus: P(x, y) → P'(−y, −x)

Contoh: Titik E(3, −2) dicerminkan terhadap garis y = −x menjadi E'(2, −3).

6. Refleksi terhadap Garis x = h dan y = k

Bagaimana jika cerminnya bukan sumbu utama, melainkan garis vertikal atau horizontal di posisi lain? Di sinilah rumus umum berperan.

Untuk garis vertikal x = h:

Rumus: P(x, y) → P'(2h − x, y)

Contoh: Titik F(5, 3) dicerminkan terhadap garis x = 2 menjadi F'(2(2) − 5, 3) = F'(−1, 3).

Untuk garis horizontal y = k:

Rumus: P(x, y) → P'(x, 2k − y)

Contoh: Titik G(1, 6) dicerminkan terhadap garis y = 3 menjadi G'(1, 2(3) − 6) = G'(1, 0).

Pola yang muncul di kedua rumus ini sebenarnya sama: nilai koordinat yang “berhadapan langsung” dengan cermin akan dihitung ulang menggunakan rumus 2 kali posisi cermin dikurangi nilai aslinya, sementara koordinat yang sejajar dengan cermin tetap tidak berubah.

Bukan Sekadar Rumus: Belajar dengan Pengalaman

Salah satu tantangan terbesar dalam belajar transformasi geometri adalah kecenderungan untuk menghafal rumus tanpa benar-benar memahami maknanya. Padahal, refleksi akan jauh lebih mudah diingat jika kita mengalaminya secara langsung, bukan sekadar membaca rumus di buku.

Beberapa cara yang bisa membantu proses belajar menjadi lebih bermakna:

  • Mengamati pola simetri di sekitar pantulan di air, cermin, atau motif kain tradisional untuk membangun intuisi visual sebelum masuk ke rumus.

  • Memaknai hubungan antara titik asli dan bayangannya, misalnya dengan bertanya: mengapa jaraknya ke cermin selalu sama?

  • Mempraktikkan rumus pada berbagai titik, lalu menggambarkannya di bidang koordinat untuk melihat langsung bagaimana pola pergeserannya.

  • Merefleksikan kembali proses berpikir sendiri bagian mana yang masih membingungkan, dan strategi apa yang paling bisa membantu.

Dengan pendekatan semacam ini, refleksi tidak lagi terasa sebagai kumpulan rumus yang harus dihafal, melainkan sebagai pola logis yang bisa ditemukan dan dipahami sendiri.

Kenapa Refleksi Penting di Luar Kelas Matematika?

Konsep refleksi ternyata jauh lebih aplikatif daripada yang terlihat di buku pelajaran. Di dunia desain grafis, prinsip simetri cermin digunakan untuk menciptakan logo yang seimbang secara visual. Di bidang arsitektur, banyak bangunan ikonik dirancang dengan memanfaatkan simetri refleksi agar terlihat harmonis. Bahkan di dunia digital, algoritma pengeditan foto dan animasi komputer sering menggunakan prinsip matematis yang sama persis dengan rumus-rumus di atas untuk membalik atau mencerminkan gambar.

Jadi, ketika kamu mempelajari refleksi, sebenarnya kamu sedang mempelajari bahasa matematis di balik banyak hal visual yang kita temui setiap hari — hanya saja jarang kita sadari.

 

Menutup dengan Cermin

Refleksi mengajarkan sesuatu yang menarik: bahwa perubahan tidak selalu berarti kehilangan. Ketika sebuah titik dicerminkan, bentuk dan ukurannya tetap terjaga, yang berubah hanyalah posisi dan arah hadapnya. Prinsip inilah yang membuat refleksi begitu elegan sebagai bagian dari geometri sederhana dalam logika, namun luas dalam penerapannya.

Semoga dengan memahami konsep ini bukan sekadar dari rumus, tetapi juga dari makna di baliknya, refleksi bisa menjadi salah satu topik matematika yang justru menyenangkan untuk dipelajari, bukan ditakuti.

 

Referensi:

Kemendikbudristek. (2022). Buku Panduan Guru Matematika untuk SMA/MA Kelas XII. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Ketika AI Jadi Teman Diskusi: Begini Cara Siswa SMK Pawiyatan Surabaya Merancang Karakter Hewan

Oleh : Cristina Handayani, S.Tr.Ds., M.Pd

Bayangkan dua siswa memilih hewan yang sama, katakanlah kucing, untuk tugas sekolah. Satu orang lalu menghasilkan sosok kucing pemberani yang gemar berpetualang. Yang lain justru menciptakan kucing pemalu, cerdas, dan penuh misteri. Objeknya identik, hasilnya jauh berbeda.

Fenomena inilah yang muncul di kelas Animasi 3D, Kelas XII Program Keahlian Desain Komunikasi Visual (DKV), SMK Pawiyatan Surabaya, saat siswa mengerjakan tugas “Merancang Sebuah Karakter Hewan”. Menariknya, ada satu unsur baru yang ikut terlibat dalam proses belajar mereka: kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Bukan berarti siswa tinggal mengetik perintah lalu AI menghasilkan gambar jadi. Justru sebaliknya. AI ditempatkan pada satu peran spesifik, yaitu sebagai teman diskusi di tahap awal, sementara seluruh proses menggambar tetap dikerjakan manual oleh siswa.

Bukan Sekadar Minta AI Bikin Gambar

Selama ini, banyak orang mengasosiasikan AI generatif dengan kemampuannya mengubah teks menjadi gambar dalam hitungan detik. Karena itu, wajar jika muncul kekhawatiran: kalau AI bisa menggambar sendiri, masih perlukah siswa belajar merancang karakter dari nol?

Guru Program Keahlian DKV SMK Pawiyatan Surabaya, Cristina Handayani, S.Tr.Ds., M.Pd., mencoba menjawab persoalan ini lewat pendekatan yang berbeda. AI tidak digunakan untuk menghasilkan karya akhir, melainkan sebagai alat bantu brainstorming pada tahap ideasi atau pencarian ide. Keputusan kreatif, mulai dari bentuk, sifat, sampai makna karakter, tetap sepenuhnya berada di tangan siswa.

Pendekatan ini dijalankan melalui model Project Based Learning (PjBL), di mana siswa mengembangkan karakter hewan secara bertahap sampai menghasilkan produk desain yang utuh.

Enam Tahap dari Ide sampai Karya Jadi

Menentukan Konsep Dulu, Baru Menggambar

Sebelum pensil menyentuh kertas, siswa diarahkan menjawab dulu pertanyaan-pertanyaan mendasar: hewan apa yang dipilih, mengapa memilih hewan tersebut, siapa nama karakternya, bagaimana sifat dan kepribadiannya, aksesori apa yang cocok, hingga filosofi apa yang ingin disampaikan lewat karakter itu.

Tahap ini penting karena karakter yang kuat biasanya tidak lahir dari kebetulan visual. Ia lahir dari alasan yang jelas di balik setiap elemen desain.

AI Sebagai Alat Bantu, Bukan Alat Utama

Setelah punya gambaran awal tapi masih meraba-raba detailnya, di sinilah siswa bisa bertanya kepada AI. Misalnya, karakteristik apa yang bisa menggambarkan seekor kucing sebagai sosok pemberani, atau aksesori seperti apa yang memperkuat kesan bijaksana pada karakter burung.

AI akan memberi beberapa kemungkinan jawaban. Namun jawaban itu bukan keputusan final. Siswa tetap harus memilih, mengubah, menggabungkan, mengembangkan, atau bahkan menolak ide yang ditawarkan AI, sesuai dengan konsep yang ingin mereka bangun sendiri.

Dengan kata lain, AI memperluas kemungkinan ide, sementara siswa yang mempersempitnya menjadi keputusan desain.

Dari Sketsa sampai Pewarnaan

Setelah konsep karakter matang, barulah proses visual dimulai, dan seluruhnya dikerjakan secara manual:

  • Sketsa tampak depan, menggambar dengan pensil di atas kertas untuk menentukan bentuk dasar kepala, tubuh, tangan, kaki, hingga aksesori. Tahap ini jadi ruang aman bagi siswa untuk mencoba, menghapus, dan mengulang tanpa takut salah.
  • Pengembangan tiga sudut pandang, karakter dikembangkan dari tampak depan, samping, sampai belakang. Tantangannya adalah menjaga konsistensi, memastikan telinga, ekor, atau aksesori sekecil apa pun tetap mewakili karakter yang sama dari sudut mana pun.

  • Digitalisasi, sketsa manual diangkat ke ranah digital, dengan mengolah ulang garis dan proporsi sesuai kebutuhan produksi, bukan sekadar menjiplak gambar sebelumnya.
  • Pewarnaan flat design, gaya ilustrasi yang menonjolkan kesederhanaan bentuk dan kemudahan karakter dikenali. Warna dipilih bukan sekadar hiasan, tapi untuk memperkuat identitas dan suasana karakter.

Dari enam tahapan itu, terlihat jelas bahwa AI hanya mengambil peran di satu titik kecil, yaitu tahap awal pencarian ide. Sisanya, mulai dari sketsa sampai pewarnaan, seluruhnya adalah kerja tangan dan pikiran siswa.

Satu Kucing, Dua Karakter yang Berbeda

Kembali ke contoh di awal tadi. Dua siswa yang sama-sama memilih kucing bisa saja mendapat stimulus serupa dari AI. Tapi hasil akhirnya tetap berbeda karena masing-masing siswa membawa pengalaman, referensi, dan cara pandang sendiri saat mengolah ide tersebut.

Ada siswa yang mengembangkan kucingnya menjadi sosok pemberani lengkap dengan pakaian eksplorasi dan warna-warna cerah. Ada pula yang menjadikannya sosok pemalu, cerdas, dan misterius, dengan kacamata serta nuansa warna yang lebih gelap.

Perbedaan ini menunjukkan satu hal sederhana: stimulus yang sama tidak otomatis menghasilkan karya yang sama. Yang menentukan hasil akhir bukan alat yang dipakai, melainkan bagaimana siswa menafsirkan, memilih, dan mengembangkan kemungkinan yang ada di depan mereka.

Kenapa Ini Penting untuk Pendidikan Desain

Praktik pembelajaran ini menegaskan sebuah prinsip yang cukup relevan di tengah maraknya penggunaan AI: AI dapat memberi alternatif, tapi manusia yang memilih. AI dapat membantu mencari inspirasi, tapi manusia yang mengembangkan gagasan. AI dapat menghasilkan gambar, tapi manusia yang memberi tujuan, konteks, dan makna.

Bagi siswa DKV, kemampuan menggunakan AI bukan berarti menyerahkan proses kreatif kepadanya. Justru sebaliknya, mereka dilatih menjadi pengendali teknologi tersebut. Seorang desainer masa kini tidak cukup hanya terampil memakai alat baru. Ia juga perlu berpikir kritis tentang kapan dan bagaimana alat itu sebaiknya digunakan, sembari tetap menjaga proses kreatifnya sendiri.

Pola pembelajaran semacam ini bisa jadi gambaran bagi sekolah atau lembaga pendidikan lain yang ingin mengintegrasikan AI ke ruang kelas tanpa kehilangan esensi belajar itu sendiri. AI ditempatkan sebagai pemantik ide di tahap awal, sementara ruang untuk mencoba, gagal, memperbaiki, dan menyempurnakan karya tetap diberikan sepenuhnya kepada siswa.

Pada akhirnya, tugas “Merancang Sebuah Karakter Hewan” ini bukan sekadar latihan menggambar. Ia menjadi contoh kecil bagaimana teknologi dan proses belajar manusia bisa berjalan beriringan, selama batas dan tujuan penggunaannya dirancang dengan jelas sejak awal.

Analisis Efektivitas Model Problem-Based Learning dalam Meningkatkan Pemahaman Konsep Barisan dan Deret Matematika

Oleh : Vernanda Aprilia, S.Si

 Matematika, SMK Pawiyatan Surabaya

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk melihat seberapa efektif model pembelajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning / PBL) dalam membantu siswa memahami materi barisan dan deret matematika. Selama ini, banyak siswa kesulitan memahami materi ini karena metode belajar yang terlalu fokus pada hafalan rumus, sehingga mereka bingung membedakan pola hitungan atau menyelesaikan soal cerita. Melalui analisis dari berbagai jurnal dan hasil penelitian terdahulu, studi ini mendalami bagaimana cara kerja PBL saat diterapkan di kelas. Hasil kajian menunjukkan bahwa model PBL sangat efektif meningkatkan pemahaman siswa. Dengan dihadapkan pada masalah sehari-hari; seperti menghitung Bunga tabungan atau pertumbuhan penduduk, siswa jadi lebih mudah memahami perbedaan antara barisan aritmetika dan geometri secara mandiri. Belajar dengan cara menemukan sendiri konsep ini juga membuat ingatan siswa bertahan lebih lama. Meski membutuhkan waktu belajar yang lebih banyak dan persiapan matang, kendala tersebut bisa diatasi dengan pembentukan kelompok belajar dan panduan soal yang terarah. Kesimpulannya, model PBL berhasil mengubah materi barisan dan deret dari pelajaran yang rumit dan penuh rumus menjadi materi yang masuk akal dan mudah dipahami.

Kata Kunci: Problem-Based Learning, Pemahaman Konsep, Barisan dan Deret, Pembelajaran Matematika.

1. Pendahuluan

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang penting dalam pendidikan karena tidak hanya mengajarkan kemampuan menghitung, tetapi juga melatih siswa untuk berpikir logis, kritis, dan mampu memecahkan masalah. Namun, dalam proses pembelajaran matematika masih terdapat siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami konsep. Siswa terkadang lebih terbiasa menghafal rumus daripada memahami bagaimana dan kapan rumus tersebut digunakan. Kondisi ini dapat menyebabkan siswa mengalami kesulitan ketika menghadapi soal yang bentuknya berbeda dari contoh yang diberikan.

Salah satu materi matematika yang membutuhkan pemahaman konsep yang baik adalah barisan dan deret. Materi ini mencakup konsep pola bilangan, suku ke-n, beda, serta jumlah

beberapa suku. Dalam pembelajarannya, siswa tidak hanya dituntut untuk menghafal rumus, tetapi juga harus mampu menemukan pola, memahami hubungan antar bilangan, dan menerapkan konsep tersebut untuk menyelesaikan masalah. Kesulitan dalam memahami konsep dasar dapat menyebabkan siswa mengalami kesalahan dalam menentukan rumus maupun menyelesaikan soal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah menerapkan model pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam proses belajar. Problem-Based Learning (PBL) merupakan model pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai awal dari proses pembelajaran. Melalui PBL, siswa diberikan suatu permasalahan yang harus dipahami dan diselesaikan secara bersama-sama. Siswa didorong untuk mencari informasi, berdiskusi, menemukan pola, mengembangkan strategi penyelesaian, dan menyampaikan hasil pemikirannya.

Penerapan PBL pada materi barisan dan deret diharapkan dapat membuat pembelajaran matematika menjadi lebih bermakna. Siswa tidak hanya menerima penjelasan dan rumus dari guru, tetapi memperoleh kesempatan untuk menemukan dan memahami konsep melalui masalah yang diberikan. Sebagai contoh, konsep barisan dan deret dapat dikaitkan dengan masalah sehari-hari seperti susunan kursi, jumlah tabungan, pola susunan benda, atau pertumbuhan jumlah suatu objek. Dengan demikian, siswa dapat melihat hubungan antara konsep matematika dengan kehidupan nyata.

Berdasarkan permasalahan tersebut, diperlukan kajian mengenai efektivitas model pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa. Oleh karena itu, artikel ini membahas “Analisis Efektivitas Model Problem-Based Learning dalam Meningkatkan Pemahaman Konsep Barisan dan Deret Matematika”. Analisis ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai penggunaan PBL dalam membantu siswa memahami materi barisan dan deret serta menjadi salah satu alternatif bagi guru dalam menciptakan pembelajaran matematika yang lebih aktif, menarik, dan mudah dipahami.

2. Landasan Teori

Barisan adalah kumpulan objek-obejek yang disusun menurut pola tertentu. Objek pertama dinamakan suku pertama, objek kedua dinamakan suku kedua, objek ketiga dinamakan suku ketiga dan seterusnya sampai objek ke-n dinamakan suku ke-n atau Un. Deret bilangan merupakan jumlah beruntun dari suku-suku suatu barisan bilangan.

· Barisan Aritmatika

Barisan aritmatika adalah suatu barisan angka-angka dimana bilangan pada suku – suku yang berdampingan memiliki selisih atau beda yang tetap.

 

Pada barisan aritmetika, beda disimbolkan dengan b dan suku pertama U1 disimbolkan dengan a. Berdasarkan uraian tersebut, ciri barisan aritmetika adalah

Rumus suku ke-n dinyatakan dengan persamaan:

· Barisan Geometri

Suatu barisan bilangan di mana setiap suku setelah suku pertama diperoleh dengan mengalikan suku sebelumnya dengan suatu bilangan tetap yang disebut rasio (r).

 

Rumus suku ke – n barisan geomteri adalah :

Pada barisan geometri, Un merupakan suku ke-n, a adalah suku pertama dan r adalah rasio dari suku berdekatan.

 

·  Deret Aritmetika

Dengan menabung, seseorang dapat mempersiapkan diri dan merencanakan masa depan yanglebih baik. Jumlah seluruh uang seseorang yang ditabung secara berkala membentuk sebuah deret.

Sehingga dapat disimpulkan deret aritmetika adalah jumlah dari seluruh suku-suku barisan bilangan aritmtetika.

Rumus deret aritmetika dinyatakan dengan persamaan :

Sn merupakan jumlah n suku pertama, a adalah suku pertama, n adalah banyak suku dan b adalah selisih.

 

·  Deret Geometri

Jika suku-suku suatu barisan geometri dijumlahkan maka diperoleh deret geometri. Deret geometri disebut juga deret ukur.

Rumus deret geoetri dinyatakan dengan persamaan :

· Penerapan Barisan Dan Deret Dalam Kehidupan

Barisan dan deret banyak digunakan untuk mengetahui pola jumlah atau perubahan yang terjadi secara teratur dalam kehidupan sehari-hari.

 

Contohnya:
  1. Keuangan & Pinjaman : Menghitung bunga tabungan, simpanan investasi, angsuran cicilan rumah (KPR), dan penurunan harga barang bekas (depresiasi).
  2. Bisnis & Produksi : Memprediksi jumlah barang yang diproduksi pabrik jika ada kenaikan target yang konstan setiap bulannya.
  3. Sains & Kesehatan : Menghitung perkembangbiakan bakteri/virus, prediksi pertumbuhan jumlah penduduk, serta sisa dosis obat di dalam tubuh.
  4. Tata Ruang & Arsitektur : Menghitung total kursi di bioskop/stadion (yang makin ke belakang makin banyak) serta menghitung jumlah tumpukan barang berbentuk
  5. Fisika : Menghitung total jarak pantulan bola yang dijatuhkan dari ketinggian tertentu sampai akhirnya berhenti (deret geometri tak hingga).

 

Barisan digunakan untuk mengetahui jumlah pada urutan tertentu, sedangkan deret digunakan untuk menghitung jumlah keseluruhan. Dengan contoh nyata seperti menabung, siswa dapat lebih mudah memahami manfaat barisan dan deret dalam kehidupan sehari-hari.

 

3. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif untuk mengetahui efektivitas model Problem-Based Learning (PBL) terhadap pemahaman konsep barisan dan deret. Penelitian dilakukan dengan memberikan pre-test sebelum pembelajaran dan post-test setelah pembelajaran menggunakan PBL.

Data yang diperoleh berupa nilai pre-test dan post-test siswa. Selanjutnya, kedua nilai tersebut dibandingkan untuk mengetahui peningkatan pemahaman siswa. Jika nilai post-test lebih tinggi daripada pre-test, maka PBL dapat dikatakan efektif membantu meningkatkan pemahaman konsep barisan dan deret.

4. Studi Kasus

Banyak siswa kesulitan belajar materi Barisan dan Deret karena terbiasa menghafal rumus tanpa memahami konsepnya. Akibatnya, ketika diberikan soal cerita atau masalah sehari-hari, mereka langsung bingung harus menggunakan rumus yang mana. Melihat kondisi tersebut, guru mencoba mengubah cara mengajar dengan menerapkan model Problem-Based Learning (PBL). Dibandingkan langsung menuliskan rumus di papan tulis, guru memulai pelajaran dengan memberikan contoh masalah nyata, seperti cara menabung, susunan kursi di gedung bioskop, atau pembelahan sel.

Dalam prosesnya, siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil untuk memecahkan masalah tersebut bersama-sama. Mereka diajak untuk menemukan pola angkanya sendiri, menyusun rumus dari hasil pengamatan kelompok, lalu mempresentasikan alasannya di depan kelas.

Untuk menguji seberapa efektif metode PBL ini, guru mengukurnya melalui dua tahap evaluasi:

  • Pre-test (Tes Awal): Diberikan sebelum metode PBL diterapkan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman awal siswa yang masih terbiasa dengan pola hafalan.
  • Post-test (Tes Akhir): Diberikan setelah rangkaian pembelajaran PBL selesai untuk mengukur perubahan pemahaman siswa.

Jika nilai post-test meningkat signifikan dibanding pre-test, artinya model PBL berhasil membantu siswa memahami materi Barisan dan Deret secara mendalam, bukan sekadar menghafal.

Berikut disajikan 2 soal studi kasus sederhana untuk menguji pemahaman siswa tentang materi barisan dan deret :

 

· Studi Kasus 1 : Menabung Rutin

Edo menabung di celengan setiap minggu dengan pola tetap. Pada minggu pertama ia menabung Rp10.000. Setiap minggu berikutnya ia menambahkan Rp5.000 dari jumlah tabungan minggu sebelumnya. Jika Edo menabung selama 12 minggu :

  1. Berapa jumlah uang yang ditabung Edo pada minggu ke-12 ?
  2. Berapa total seluruh uang yang sudah ditabung Sinta selama 12 minggu ?

 

· Studi Kasus 2 : Susunan Kardus Di Gudang

Di sebuah gudang logistik, pekerja bernama Raka diminta menyusun kardus dalam 20 baris. Ia mulai dari baris pertama dengan 5 kardus, lalu di baris kedua ia menyusun 8 kardus, dan baris ketiga 11 kardus. Pola itu terus berlanjut dengan jumlah kardus di setiap baris bertambah sama banyak. “Wah, makin lama makin banyak nih!” katanya.

  1. Berapa kardus yang ada di baris ke-20?
  2. Dan berapa jumlah seluruh kardus yang telah ia susun dari baris pertama hingga ke-20?

5. Hasil dan Pembahasan

Studi kasus pertama : Menabung Rutin

Diketahui :

  • Minggu pertama = Rp 10.000
  • Pertambahan setiap minggu = Rp 5.000
  • Lama menabung = 12 minggu

 

a. Tabungan pada minggu ke – 12

Karena jumlah tabungan bertambah dengan jumlah yang sama, maka menggunakan barisan aritmetika.

Rumus : 𝑈𝑛 = 𝑎 + (𝑛 − 1)𝑏

Memasukkan nilai, maka :

𝑈12 = 10.000 + (12 − 1)(5000)

= 10.000 + 11(5000)

= 10.000 + 55.000

𝑈12 = 𝑅𝑝 65.000

Jadi, pada minggu ke -12 Edo menabung Rp 65.000

 

  1. Total tabungan selama 12 minggu

Untuk mencari jumlah seluruh tabungan, menggunakan deret aritmetika.

Sehingga, total tabungan Edo selama 12 minggu adalah Rp 450.000

Pada studi kasus menabung, jumlah uang yang ditabung Edo bertambah Rp5.000 setiap minggu. Pola tersebut termasuk barisan aritmetika karena memiliki selisih yang tetap.

Dari hasil perhitungan, tabungan Edo pada minggu ke-12 adalah Rp65.000. Jika seluruh tabungan dari minggu pertama sampai minggu ke-12 dijumlahkan, diperoleh Rp450.000.

Studi kasus ini menunjukkan bahwa konsep barisan dan deret dapat digunakan untuk membantu menghitung perkembangan tabungan dan jumlah uang yang terkumpul. Dengan contoh menabung, siswa dapat lebih mudah memahami konsep karena berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari.

Studi kasus kedua : Susunan kardus digudang

Diketahui :

  • Baris pertama = 5 kardus
  • Baris kedua = 8 kardus
  • Baris ketiga = 11 kardus
  • Pertambahan setiap baris = 3 kardus
  • Jumlah baris = 20

 

a.      Jumlah kardus pada baris ke – 20

Menggunakan rumus barisan aritmetika :

𝑈𝑛 = 𝑎 + (𝑛 − 1)𝑏

𝑈20 = 5 + (20 − 1)(3)

= 5 + 19(3)

= 5 + 57

𝑈20 = 62

Jadi, pada baris ke – 20 terdapat 62 kardus.

 

  1. Jumlah seluruh kardus

Menggunakan rumus deret aritmetika.

Jadi, jumlah seluruh kardus dari baris pertama hingga baris ke – 20 adalah 670 kardus.

 

Pola 5, 8, 11, dan seterusnya merupakan barisan aritmetika karena memiliki selisih yang sama. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa pada baris ke-20 terdapat 62 kardus. Sementara itu, jumlah seluruh kardus dari baris pertama sampai baris ke-20 adalah 670 kardus.

Studi kasus ini menunjukkan bahwa barisan dan deret dapat diterapkan dalam kegiatan di tempat kerja, seperti menyusun dan menghitung kardus di gudang. Melalui masalah seperti ini, siswa dapat memahami bahwa matematika tidak hanya berupa rumus, tetapi dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah nyata.

Gambar 1. Pengerjaan LKPD Studi Kasus Aritmetika Berbasis PBL

Gambar 1. Menunjukkan bagaimana siswa terlihat bekerja dalam kelompok dan berdiskusi untuk menyelesaikan permasalahan yang diberikan. Mereka mengamati soal, bertukar pendapat, melakukan perhitungan, dan mencari strategi penyelesaian materi Barisan dan Deret. Guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing siswa selama proses pemecahan masalah.

Gambar 2. Presentasi Hasil Studi Kasus Aritmetika Berbasis PBL

Gambar 2. Menunjukkan siswa mempresentasikan hasil penyelesaian masalah di depan kelas. Kelompok lain menyimak dan memberikan perhatian terhadap hasil yang disampaikan. Guru memfasilitasi kegiatan diskusi, memberikan penguatan, serta membantu siswa mengevaluasi hasil penyelesaian masalah.

 

6. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan kedua studi kasus, penerapan Problem-Based Learning (PBL) dapat membantu siswa memahami konsep barisan dan deret dengan lebih mudah. Melalui masalah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti menabung dan menyusun kardus, siswa dapat belajar menemukan pola, menggunakan rumus, dan menyelesaikan masalah secara langsung.

Hasil studi kasus menunjukkan bahwa siswa dapat memahami bahwa barisan digunakan untuk mencari nilai pada urutan tertentu, sedangkan deret digunakan untuk menghitung jumlah keseluruhan. Dengan PBL, siswa juga menjadi lebih aktif dalam berdiskusi, berpikir, dan mencari solusi.

Dengan demikian, model Problem-Based Learning (PBL) dapat menjadi salah satu cara yang efektif untuk meningkatkan pemahaman konsep barisan dan deret matematika, karena siswa tidak hanya menghafal rumus, tetapi juga memahami penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari.

 

Daftar Pustaka

Amanda, P., & Haryadi, R. (2023). Pengembangan video pembelajaran dengan model Problem Based Learning terhadap kemampuan pemahaman matematis pada materi barisan dan deret aritmatika. Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika, 7(3), 3018–3026. https://doi.org/10.31004/cendekia.v7i3.2702

Barrows, H. S. (1986). A taxonomy of problem-based learning methods. Medical Education, 20(6), 481–486. https://doi.org/10.1111/j.1365-2923.1986.tb01386.x

 

El Mubarok, U. F., & Rizkianto, I. (2023). Pengembangan e-modul berbasis Problem Based Learning untuk materi barisan dan deret aritmatika SMK kelas X. Jurnal Pedagogi Matematika, 11(2). https://doi.org/10.21831/jpm.v11i2.21750

Hmelo-Silver, C. E. (2004). Problem-based learning: What and how do students learn? Educational                                     Psychology                 Review,                  16(3),                 235–266. https://doi.org/10.1023/B:EDPR.0000034022.16470.f3

Holo, O. P., & Towe, M. M. (2023). Pengembangan permainan matematika berbasis Problem Based Learning (PBL) pada materi barisan dan deret. Asimtot: Jurnal Kependidikan Matematika, 5(1), 15–29. https://doi.org/10.30822/asimtot.v5i01.2821

Khairunnisa, S., & Hasanuddin. (2025). Model pembelajaran Problem Based Learning untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi barisan dan deret aritmetika di SMA Pekanbaru. Jurnal Penelitian Pembelajaran Matematika Sekolah, 9(3), 318–328. https://doi.org/10.33369/jp2ms.9.3.318-328

Ristanti, R., & Hadi, M. S. (2024). Pengembangan LKPD berbasis Problem Based Learning pada barisan dan deret aritmatika kelas XI. Pedagogy: Jurnal Pendidikan Matematika, 9(1). https://doi.org/10.30605/pedagogy.v9i1.3826

Salmila, Y., & Erita, S. (2024). Analisis kemampuan pemahaman konsep matematis materi barisan dan deret pada siswa kelas VIII Al-Quds SMP IT Amanah Sungai Penuh. Matematika: Jurnal Teori dan Terapan Matematika, 22(2). https://doi.org/10.29313/matematika.v22i2.3151

Widiati, N., Syaifuddin, & Kusumawati, N. I. (2020). Model pembelajaran berbasis masalah dan kemampuan penalaran matematika siswa pada materi barisan dan deret aritmetika. Indiktika:                            Jurnal            Inovasi            Pendidikan            Matematika,             2(2). https://doi.org/10.31851/indiktika.v2i2.4163

Hasibuan, R., & Amir, A. (2025). Efektivitas penggunaan LKPD berbasis pembelajaran aktif untuk meningkatkan pemahaman konsep barisan dan deret. Hexagon: Jurnal Ilmu dan Pendidikan Matematika.

Menguasai Seni Pelayanan Prima: Praktik Resepsionis Bilingual Secretary di SMK Pawiyatan Surabaya

Oleh: Cicik Mahmudah, S.Pd.

 Di balik kesuksesan dan kelancaran operasional sebuah perusahaan atau instansi modern, terdapat peran krusial seorang tenaga administrasi yang profesional. Dunia perkantoran saat ini tidak lagi sekadar mengurus arsip konvensional, melainkan dituntut untuk bergerak cepat, adaptif, dan memiliki kemampuan komunikasi tingkat tinggi. Menyadari tantangan tersebut, SMK Pawiyatan Surabaya melalui konsentrasi keahlian Manajemen Perkantoran terus berinovasi dalam mencetak lulusan yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga memiliki daya saing global.

Di era globalisasi dan dunia kerja yang semakin kompetitif, kemampuan komunikasi yang andal serta penguasaan pelayanan prima (service excellence) menjadi kunci utama seorang profesional perkantoran. Hal inilah yang terus ditekankan di SMK Pawiyatan Surabaya, khususnya pada konsentrasi keahlian Manajemen Perkantoran.

Sebagai guru pengampu mata pelajaran Bilingual Secretary Kelas XI, saya berfokus pada pembelajaran yang memadukan teori mendalam dengan pengalaman praktis di dunia nyata. Berdasarkan koordinasi dan jadwal yang telah ditentukan oleh Kepala Program Studi Manajemen Perkantor, Ibu Lilis Rahayu, S.Pd., para siswa secara bergantian mengemban tugas piket sebagai resepsionis sekolah.

Tujuan Pembelajaran dan Pengalaman Praktik Nyata

Kegiatan praktik langsung ini dirancang untuk mencapai dua tujuan pembelajaran utama, yaitu:

  1. Menerapkan komunikasi lisan dan tertulis dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris di lingkungan kerja.
  2. Menerapkan prosedur penanganan telepon dan tamu kantor menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Melalui kegiatan menerima tamu dan menangani panggilan telepon secara langsung di lini depan, siswa dilatih untuk membentuk komunikasi yang baik, ramah, dan profesional layaknya di perkantoran modern.

 

Rincian Materi Pembelajaran

Agar siswa dapat menjalankan peran sebagai resepsionis dengan sangat baik, mereka dibekali dengan rincian materi yang komprehensif, terstruktur, dan aplikatif sebagai berikut:

  1. Komunikasi Lisan dan Tertulis di Lingkungan Kerja
  • Greetings and Introductions: Mempelajari cara menyambut tamu, memperkenalkan diri, serta membangun kesan pertama (first impression) yang profesional.
  • Office Expressions: Menguasai ungkapan-ungkapan operasional sehari-hari yang lazim digunakan di lingkungan kantor.
  • Formal and Informal Communication: Memahami penggunaan ragam bahasa formal maupun informal sesuai dengan situasi dan lawan bicara.
  • Email Etiquette: Menguasai etika dan tata cara penulisan surat elektronik secara profesional dalam dua bahasa.
  • Business Vocabulary: Memperkaya perbendaharaan kosakata bisnis untuk menunjang kelancaran komunikasi tertulis maupun lisan.
  • Cross Cultural Communication: Memahami pentingnya toleransi dan pemahaman lintas budaya dalam menghadapi beragam karakteristik tamu.
  1. Prosedur Penanganan Telepon dan Tamu Kantor
  • Telephone Etiquette: Memahami etika dan SOP dalam menerima maupun melakukan panggilan telepon kantor.
  • Telephone Expressions: Menguasai frasa dan ungkapan baku saat berkomunikasi melalui sambungan telepon.
  • Taking Messages: Berlatih mencatat, mengonfirmasi, dan menyampaikan pesan dari penelepon secara akurat.
  • Transferring Calls: Mempelajari prosedur menyambungkan panggilan telepon ke bagian atau ekstensi yang dituju dengan tepat.
  • Guest Handling Procedure: Menguasai tahapan standar operasional dalam melayani dan menyambut tamu dari kedatangan hingga kepulangan.
  • Visitor Log Book: Mempraktikkan pengisian dan pengelolaan buku tamu (log book) secara teliti, tertib, dan akurat.

 

Mencetak Lulusan Profesional yang Siap Kerja

            Dengan perpaduan teori yang matang serta kesempatan praktik langsung di lapangan, para siswa Kelas XI Manajemen Perkantoran terbukti mampu menjalankan tugas sebagai resepsionis secara profesional, percaya diri, dan fasih menggunakan Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris.

Pendidikan kejuruan bukan sekadar mengejar nilai di atas kertas, melainkan tentang bagaimana menempa mental, keterampilan, dan kesiapan mental menghadapi dinamika dunia kerja yang sesungguhnya. Semoga melalui program pembelajaran Bilingual Secretary dan kegiatan piket resepsionis ini, para siswa Kelas XI Manajemen Perkantoran SMK Pawiyatan Surabaya semakin termotivasi untuk terus belajar, berinovasi, dan tumbuh menjadi profesional muda yang membanggakan.

Melalui program pembelajaran interaktif ini, SMK Pawiyatan Surabaya terus berkomitmen mencetak lulusan yang kompeten, tanggap, serta siap menghadapi tantangan di dunia usaha maupun dunia industri (DU/DI).

SMK Pawiyatan Surabaya Peringati Maulid Nabi 1448 H: Jadikan Rasulullah Sebagai Inspirasi Pemuda di Era Digital

SURABAYA 24 Agustus 2026 – Mengawali pekan dengan penuh keberkahan, SMK Pawiyatan Surabaya sukses menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H pada Senin pagi (24/8/2026). Bertempat di Masjid Ulul Albab Simomulyo, Kecamatan Sukomanunggal, Kota Surabaya, acara keagamaan ini berlangsung khidmat dari pukul 07.00 hingga 10.15 WIB.

Tahun ini, peringatan Maulid Nabi mengusung tema “Pemuda Cinta Nabi, Rasulullah Sebagai Inspirasi”. Tema ini dinilai sangat relevan untuk membangkitkan kecintaan generasi muda terhadap sosok utusan Allah, sekaligus meneladani akhlaknya di tengah arus modernisasi.

Acara dibuka dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang menyejukkan hati. Mengawali kegiatan, Bapak Andi Susanto, S.E, M.M, Kepala SMK Pawiyatan Surabaya dalam sambutannya memberikan pesan mendalam kepada seluruh peserta didik. Beliau menekankan agar seluruh siswa senantiasa meneladani Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari. Upaya memperbaiki akhlak dan karakter harus selalu menjadi prioritas di samping mengejar prestasi akademik.

Memasuki puncak acara, Ustadz Chusni Amaludin, S.HI., M.Pd.I., CDAI., hadir memberikan tausiyah yang mengupas tuntas tema kegiatan. Beliau mengingatkan bahwa momentum peringatan Maulid Nabi adalah waktu yang tepat untuk merefleksikan diri, serta memastikan kembali bahwa panduan utama dalam menjalani hidup adalah suri tauladan Rasulullah SAW.

Dalam pesannya yang ditujukan khusus bagi para pelajar, Ustadz Chusni mengibaratkan ilmu sebagai cahaya.

“Sebagai siswa yang sedang menuntut ilmu, sadarilah bahwa ilmu itu bagaikan cahaya. Dalam upaya memperbaiki akhlak dan mendapatkan ilmu yang berkah, salah satu kuncinya adalah memiliki sifat tawadhu (rendah hati) serta selalu memuliakan orang tua dan guru,” papar Ustadz Chusni.

Lebih lanjut, beliau juga menyoroti tantangan kehidupan di zaman modern yang serba canggih. Generasi muda saat ini dinilai sulit lepas dari gawai (gadget). Beliau mengingatkan agar siswa berhati-hati dan menjauhi maksiat, karena sebuah gawai bisa dengan mudah menjadi sumber keburukan jika disalahgunakan. Namun sebaliknya, apabila dimanfaatkan dengan bijak, gawai tersebut dapat menjadi sarana yang sangat luar biasa untuk belajar dan menggali ilmu pengetahuan.

Acara peringatan Maulid Nabi ini ditutup dengan doa bersama. Melalui kegiatan ini, diharapkan para siswa SMK Pawiyatan Surabaya tidak hanya tumbuh menjadi generasi yang cakap teknologi, tetapi juga menjadi pemuda-pemudi yang berakhlak mulia, senantiasa menjadikan Rasulullah SAW sebagai inspirasi dalam setiap langkah kehidupan.~AA

Wujudkan Lingkungan Belajar yang Aman, SMK Pawiyatan Surabaya Perkuat Fasilitas Mitigasi Bencana

SURABAYA, 20 Agustus 2026 – Keselamatan dan kenyamanan seluruh warga sekolah merupakan prioritas utama bagi SMK Pawiyatan Surabaya. Sebagai wujud nyata dari komitmen tersebut, Bagian Sarana dan Prasarana (Sarpras) mengambil langkah proaktif dalam upaya mitigasi bencana dengan melengkapi fasilitas keselamatan di seluruh area sekolah.

Langkah mitigasi ini diwujudkan melalui pemasangan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) berjenis dry chemical powder. Tabung-tabung APAR tersebut kini telah ditempatkan pada posisi-posisi strategis yang mudah dijangkau, mencakup seluruh ruang kelas dan area yang memiliki risiko kelistrikan tinggi, seperti laboratorium komputer. Penggunaan APAR jenis powder ini dinilai sangat tepat dan serbaguna karena efektif untuk menangani berbagai kelas kebakaran, termasuk yang melibatkan peralatan elektronik.

Selain pencegahan kebakaran, SMK Pawiyatan Surabaya juga telah menetapkan prosedur evakuasi darurat dengan memasang rambu “Titik Kumpul” (Assembly Point) yang terlihat jelas di area pinggir lapangan utama. Lokasi terbuka ini dipilih sebagai zona aman bagi seluruh siswa, guru, dan staf sekolah untuk berkumpul apabila terjadi keadaan darurat, seperti gempa bumi maupun insiden lainnya.

Penyediaan fasilitas keselamatan ini bukan sekadar pemenuhan standar infrastruktur pendidikan, melainkan sebuah langkah mitigasi bencana yang komprehensif dari pihak sekolah. Kehadiran fasilitas APAR dan penetapan jalur evakuasi menuju titik kumpul ini diharapkan dapat meminimalisir risiko serta memberikan perlindungan maksimal jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Dengan adanya peningkatan fasilitas mitigasi bencana ini, SMK Pawiyatan Surabaya berharap dapat terus menghadirkan ekosistem pendidikan yang kondusif. Langkah ini sekaligus bertujuan untuk menanamkan kesadaran akan pentingnya budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di lingkungan sekolah, sehingga proses kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung dengan tenang, aman, dan lancar. ~AA

     

Tingkatkan Kompetensi Vokasi, SMK Pawiyatan Surabaya Gandeng GameLab Gelar Kelas Industri PPLG

SURABAYA, 15 Juli 2026 – Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan vokasi serta mengakselerasi digitalisasi pembelajaran di lingkungan SMK di Provinsi Jawa Timur, SMK Pawiyatan Surabaya resmi menjalin kemitraan strategis dengan PT Educa Sisfomedia Indonesia atau yang lebih dikenal luas sebagai GameLab. Kerjasama ini dituangkan dalam penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) oleh kedua belah pihak. 

Kesepakatan bertajuk “Kerja Sama Pengembangan Kompetensi Peserta Didik Berbasis Industri” tersebut ditandatangani secara langsung oleh Kepala SMK Pawiyatan Surabaya, Andi Susanto, S.E., M.M., bersama CEO Gamelab Indonesia, Septi Yuliana, pada tanggal 15 Juli 2026.

Fokus utama dari kerja sama yang akan berlangsung selama dua bulan ini adalah implementasi program Kelas Industri. Program eksklusif ini secara spesifik ditujukan bagi 1 (satu) rombongan belajar siswa Kelas XI pada konsentrasi keahlian Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) angkatan 2025 untuk tahun ajaran 2026/2027.

Saat ini, program Kelas Industri sedang dilaksanakan dan berjalan tepat sesuai jadwal. Seluruh rangkaian kegiatan pembelajaran dipusatkan di laboratorium komputer RPL SMK Pawiyatan Surabaya. Ahmad Arifin, S.Kom., selaku Kepala Program Keahlian Pengembangan Perangkat Lunak dan Gim (PPLG), secara aktif memantau jalannya program ini guna memastikan para siswa mendapatkan bekal yang komprehensif agar siap beradaptasi dengan cepatnya perubahan teknologi di dunia industri.

Sistem pembelajaran dalam Kelas Industri ini dirancang secara modern, di mana materi disampaikan secara daring melalui Learning Management System (LMS) milik GameLab. Melalui platform tersebut, para siswa tidak hanya menerima teori, tetapi langsung difokuskan pada project utama, yaitu merancang dan membangun sebuah game sederhana.

Selain memberikan pengalaman praktik berstandar industri kepada siswa, ruang lingkup kerja sama ini juga mencakup pengembangan kurikulum serta pelatihan berkelanjutan bagi guru dan siswa. Sebagai puncak dari rangkaian program ini, nantinya akan dilaksanakan Rapat Penyerahan Rapor Mutu Industri oleh pihak GameLab, yang akan menjadi tolok ukur keberhasilan sekaligus bukti nyata dari peningkatan kompetensi siswa SMK Pawiyatan Surabaya di sektor teknologi informasi.~AA

Khidmatnya Peringatan HUT RI ke-81 di Yayasan Perguruan Pawiyatan: Ketua Yayasan Tekankan Pentingnya Sosok Pendidik Teladan

SURABAYA 17 Agustus 2026 – Semangat kemerdekaan mewarnai segenap keluarga besar Yayasan Perguruan Pawiyatan pada Senin (17/8/2026) pagi. Tepat pukul 07.00 WIB, seluruh jajaran siswa, jajaran dewan guru, beserta staf karyawan dari SMP Pawiyatan Surabaya dan SMK Pawiyatan Surabaya bersatu padu melaksanakan upacara pengibaran bendera Merah Putih dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81.

Berlangsung khidmat di lapangan sekolah, upacara gabungan dua instansi pendidikan di bawah naungan Yayasan Perguruan Pawiyatan ini dipimpin langsung oleh Bapak Drs. Joko Sudariswanto selaku Ketua Yayasan yang bertindak sebagai Pembina Upacara.

Dalam amanatnya, Bapak Drs. Joko Sudariswanto menyampaikan pesan mendalam mengenai esensi perjuangan di masa kini, yakni tentang bagaimana cara terbaik untuk mengisi kemerdekaan. Secara khusus, beliau menyoroti peran krusial para guru dan mengajak seluruh tenaga pendidik untuk terus bertransformasi menjadi sosok “Pendidik Teladan”.

Menurut pemaparan beliau, seorang pendidik sejati memegang peranan vital sebagai agen peradaban yang bertugas membentuk karakter generasi penerus bangsa. Untuk itu, terdapat empat karakteristik utama yang harus tertanam dalam diri seorang guru teladan:

  • Integritas Tinggi: Menjaga keselarasan dan konsistensi yang teguh antara ucapan dengan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari.

  • Empati dan Sabar: Memiliki kesediaan dan kelembutan hati untuk mendengarkan murid serta membimbing mereka dengan penuh kasih sayang.

  • Disiplin Diri: Menjadi figur percontohan yang nyata dalam hal ketepatan waktu dan pemenuhan tanggung jawab.

  • Sumber Inspirasi: Mampu menjadi pelita yang senantiasa menyalakan semangat belajar dan menumbuhkan motivasi di dalam diri peserta didik.

Lebih lanjut, Bapak Joko mengingatkan kembali marwah seorang guru sebagai figur yang senantiasa digugu dan ditiru (dipercaya dan dicontoh tindak-tanduknya). Beliau menggaungkan kembali filosofi luhur Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara, yakni prinsip Ing Ngarsa Sung Tuladha—yang berarti seorang pemimpin atau pendidik harus mampu berada di depan untuk memberikan teladan.

Beliau menekankan bahwa mendidik yang paling berdampak adalah melalui tindakan nyata, bukan sekadar untaian ucapan semata.

Peringatan HUT ke-81 RI pagi ini diharapkan tidak sekadar menjadi rutinitas seremonial tahunan, melainkan menjadi momentum refleksi bersama. Melalui semangat kemerdekaan ini, seluruh keluarga besar SMP dan SMK Pawiyatan Surabaya terus berkomitmen untuk memberikan dedikasi terbaik demi mencetak generasi muda Indonesia yang tangguh, cerdas, dan berkarakter mulia.~AA