Oleh : Anisa Luh Sakinah, S.Pd., M.Pd.

Pendahuluan

Seni rupa merupakan salah satu bagian dari pembelajaran yang dapat membantu murid dalam mengembangkan kognitif, kreativitas, keterampilan serta imajinasi untuk menghasilkan sebuah karya kriya 2 dimensi. Dalam proses pembelajaran seni rupa, murid tidak hanya dituntut untuk memahami teori, tetapi juga perlu diberikan kesempatan untuk bereksperimen ragam medium dan menghasilkan karya secara langsung. Salah satu kegiatan yang mudah dipraktikkan oleh murid adalah praktik membuat batik jumputan.

Batik jumputan merupakan salah satu teknik menghias kain dengan cara mengikat, melipat, atau menjumput bagian tertentu pada kain sebelum diberi warna. Teknik ini menghasilkan motif dan pola yang unik karena setiap proses pembuatan dapat menghasilkan bentuk yang berbeda. Selain mudah dilakukan, batik jumputan juga dapat menjadi media yang menarik bagi murid untuk mengekspresikan ide dan kreativitasnya.

Mengenal Batik Jumputan

Batik jumputan adalah karya seni kriya yang dibuat dengan teknik ikat dan celup. Bagian kain yang diikat atau dijumput akan terlindungi dari pewarna sehingga menghasilkan pola tertentu setelah ikatan dibuka. Motif yang muncul dapat berupa lingkaran, garis, bentuk abstrak, maupun pola lainnya. Istilah jumputan berasal dari kata “jumput”, yaitu mengambil atau mencubit sebagian kecil kain menggunakan jari. Bagian kain yang dijumput kemudian diikat agar tidak terkena pewarna.

Keunikan batik jumputan terletak pada hasil akhirnya yang tidak selalu dapat diprediksi secara tepat karena setiap proses pengikatan, dan pengaplikasian warna menghasilkan motif yang unik. Hal tersebut memberikan pengalaman menarik bagi murid karena mereka dapat mencoba berbagai teknik lipatan dan ikatan untuk menghasilkan motif yang berbeda.

Di Indonesia, batik jumputan berkembang cukup kuat, terutama di daerah Jawa dan Sumatra. Salah satu daerah yang terkenal dengan kain jumputan adalah Palembang, yang memiliki tradisi kain jumputan dengan motif dan warna yang khas. daerah Indonesia, teknik serupa dikenal

 

sebagai jumputan, pelangi, sasirangan, atau kain ikat, dengan karakter motif dan teknik yang berbeda-beda.

Batik Jumputan dalam Pembelajaran Seni Rupa

Penggunaan batik jumputan dalam pembelajaran seni rupa dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih aktif dan menyenangkan. Murid dapat mempelajari unsur seni rupa seperti warna, bentuk, pola, komposisi, dan tekstur melalui kegiatan praktik secara langsung.

Guru dapat memberikan kebebasan kepada murid untuk menentukan kombinasi warna serta pola yang ingin dibuat. Dengan demikian, setiap murid dapat menghasilkan karya yang memiliki karakter dan keunikan masing-masing. Proses tersebut juga mendorong murid untuk berani mencoba dan tidak takut melakukan kesalahan dalam berkarya.

Selain menghasilkan karya seni, kegiatan membuat batik jumputan dapat menjadi sarana untuk mengenalkan kekayaan budaya Indonesia. Murid dapat memahami bahwa seni tradisional dapat dipelajari dan dikembangkan melalui kreativitas dengan cara yang menyenangkan.

Alat, Bahan, dan Proses Pembuatan

Pembuatan batik jumputan dapat dilakukan menggunakan alat dan bahan yang relatif sederhana. Beberapa bahan yang dapat digunakan antara lain kain berwarna putih yang tidak mengkilap seperti katun prisma, pewarna tekstil (Remasol/ naptol/ bulan), karet gelang atau tali rafia, wadah botol 150 ml untuk pewarna, sarung tangan, dan air.

 

 

 

 

 

Langkah pembuatannya dimulai dengan menyiapkan kain dan menentukan pola. Setelah itu, kain dilipat, dijumput, atau diikat menggunakan karet maupun tali pada bagian-bagian tertentu. Kain kemudian diberi pewarna sesuai dengan warna yang diinginkan. Setelah proses pewarnaan selesai, ikatan dilepas dan kain dikeringkan. Hasil akhirnya akan memperlihatkan motif khas yang terbentuk dari bagian kain yang terlindungi selama proses pewarnaan.

 

Manfaat bagi Kreativitas Murid

Kegiatan membuat batik jumputan memiliki berbagai manfaat dalam pembelajaran seni rupa. Murid dapat mengembangkan kreativitas dengan mencoba berbagai bentuk, pola, dan perpaduan warna. Mereka juga belajar mengambil keputusan dalam menentukan desain, warna dan hasil karya yang ingin dibuat. Selain kreativitas, kegiatan ini dapat melatih ketelitian, kesabaran, dan koordinasi antara tangan dan mata. Murid juga belajar menghargai proses karena hasil batik jumputan membutuhkan beberapa tahapan sebelum menjadi karya yang siap digunakan. Kegiatan secara berkelompok dapat melatih kemampuan bekerja, kekompakan, dan percaya diri untuk menghasilkan karya seni. Murid dapat saling membantu dalam menyiapkan alat dan bahan, melakukan pewarnaan, proses mengikat maupun merapikan tempat setelah kegiatan selesai.

Kesimpulan

Batik jumputan adalah warisan teknik tekstil yang menggunakan prinsip perintangan warna melalui proses  menjumput,  melipat, dan  mengikat  kain sebelum  dilakukan  pencelupan.

 

Perkembangannya menunjukkan kemampuan masyarakat Indonesia dalam mengolah bahan tekstil menjadi karya yang memiliki nilai estetis, kreatif, ekonomis, dan budaya. Batik jumputan dapat menjadi media kreatif yang menarik dalam pembelajaran seni rupa. Melalui kegiatan membuat batik jumputan, murid tidak hanya belajar mengenai warna, pola, bentuk, dan teknik berkarya, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kreativitas dan keterampilan secara langsung.

Pembelajaran batik jumputan juga dapat menjadi salah satu cara untuk mengenalkan dan menumbuhkan rasa menghargai terhadap budaya Indonesia. Dengan kegiatan yang sederhana dan menyenangkan, murid dapat menghasilkan karya seni yang unik sekaligus memperoleh pengalaman belajar yang bermakna melalui berkarya seni.