PMR SMK Pawiyatan Surabaya Resmi Sahkan Anggota Baru Lewat Kegiatan Orientasi Seru dan Edukatif

Surabaya, 19 September 2026 – Palang Merah Remaja (PMR) SMK Pawiyatan Surabaya sukses menggelar kegiatan Orientasi dan Pengesahan Anggota Baru pada Sabtu (19/9). Mengambil tempat di lingkungan sekolah, kegiatan ini berlangsung padat dan penuh semangat sejak pukul 07.00 hingga 16.00 WIB.

Rangkaian acara diawali dengan apel pembukaan di lapangan sekolah yang diikuti oleh seluruh calon anggota baru dengan penuh ikhtiar dan disiplin. Usai apel, para peserta langsung diuji kemampuannya melalui sesi tes pos per pos. Pada tahap ini, setiap individu diuji secara mandiri terkait pemahaman materi kepalangmerahan dan pertolongan pertama yang telah dipelajari sebelumnya.

Tidak berhenti di situ, seluruh materi yang diujikan kemudian dikupas kembali dalam sesi evaluasi materi guna memastikan setiap anggota benar-benar memahami peran dan kecakapan dasar seorang relawan muda.

Suasana semakin meriah saat memasuki siang hari melalui kegiatan treasure hunt. Permainan teka-teki interaktif ini berhasil menguji ketangkasan, logika, serta kerja sama tim para peserta. Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan sesi kritik dan saran sebagai ruang evaluasi terbuka, momen jejak kebersamaan untuk mempererat ikatan kekeluargaan antaranggota, serta ditutup dengan penampilan kreatif pada pentas seni.

Kesuksesan dan kelancaran seluruh rangkaian kegiatan orientasi ini tidak lepas dari pendampingan Mas Pungki selaku Fasilitator PMR SMK Pawiyatan Surabaya, yang dibantu oleh Kak Najwa, mahasiswa magang dari Universitas Airlangga (UNAIR).

Melalui orientasi ini, para anggota baru yang telah disahkan diharapkan tidak hanya siap secara teori dan keterampilan pertolongan pertama, tetapi juga memiliki jiwa kemanusiaan, loyalitas, serta rasa kebersamaan yang tinggi sesuai dengan Tri Bakti PMR.~AA

SMK Pawiyatan Surabaya Gelar Tryout Persiapan Tes Kemampuan Akademik (TKA) Tahun Ajaran 2026/2027

SURABAYA, 21 September 2026 – Guna mematangkan kesiapan seluruh peserta didik tingkat akhir dalam menghadapi evaluasi kemampuan akademik, SMK Pawiyatan Surabaya secara resmi memulai rangkaian Tryout Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk Tahun Ajaran 2026/2027 pada Senin (21/9/2026). Rangkaian kegiatan ini dirancang secara sistematis untuk mengukur, memetakan, serta meningkatkan kesiapan akademis siswa sebelum menghadapi TKA utama.

Pelaksanaan Tryout TKA ini terbagi ke dalam dua gelombang simulasi. Tryout 1 berlangsung selama dua hari, yakni pada tanggal 21 hingga 22 September 2026. Selanjutnya, para siswa akan mengikuti Tryout 2 yang dijadwalkan pada 21 hingga 22 Oktober 2026 sebagai ajang evaluasi akhir sebelum menghadapi ujian yang sesungguhnya.

Kegiatan tryout maupun TKA resmi diikuti oleh seluruh siswa-siswi kelas XII SMK Pawiyatan Surabaya yang berjumlah 426 siswa. Untuk menunjang kelancaran, ketertiban, dan kenyamanan berbasis komputer, sekolah mengoptimalkan penggunaan empat laboratorium komputer utama, yaitu:

  1. Laboratorium DKV (Desain Komunikasi Visual)

  2. Laboratorium RPL (Rekayasa Perangkat Lunak)

  3. Laboratorium AKL (Akuntansi dan Keuangan Lembaga)

  4. Laboratorium MP (Manajemen Perkantoran)

Fasilitas laboratorium berbasis TI tersebut siap menyokong seluruh tahapan ujian hingga pelaksanaan TKA utama mendatang. Berdasarkan jadwal resmi, Pelaksanaan TKA Gelombang 1 akan diselenggarakan pada 26–29 Oktober 2026, disusul oleh Pelaksanaan TKA Gelombang 3 pada 2–5 November 2026.

Melalui rangkaian simulasi berbasis komputer ini, SMK Pawiyatan Surabaya berharap seluruh peserta didik kelas XII tidak hanya siap secara materi pelajaran, tetapi juga memiliki mental yang tangguh serta familiar dengan teknis pelaksanaan ujian digital. Dukungan sarana dan prasarana yang memadai di tiap laboratorium diharapkan mampu mendorong pencapaian hasil belajar yang optimal bagi seluruh siswa. ~AA

SMK Pawiyatan Surabaya Resmi Jalin Komitmen Kelas Industri Fiber Optik Network 2.0++ Bersama Maspion IT dan Jatim Teknologi

SURABAYA, 17 September 2026 – SMK Pawiyatan Surabaya terus memperkuat sinergi dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) guna meningkatkan kualitas lulusan yang kompeten dan siap kerja. Langkah strategis ini ditunjukkan melalui partisipasi aktif sekolah dalam kegiatan Workshop Kelas Industri Fiber Optik Network 2.0 yang diselenggarakan oleh Jatim Teknologi.

Sebagai bentuk keseriusan dalam menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan industri digital masa kini, SMK Pawiyatan Surabaya secara resmi menandatangani Letter of Intent (LOI) kerja sama Program Kelas Industri Fiber Optik Network 2.0++ bersama Pihak Maspion IT dan Jatim Teknologi Mengajar.

Melalui penandatanganan LOI yang berlaku efektif selama satu tahun terhitung mulai 17 September 2026 ini, SMK Pawiyatan Surabaya berkomitmen penuh untuk menjalankan berbagai program penyelarasan industri. Lingkup kerja sama ini mencakup:

  • Penyelarasan Kurikulum Industri: Menyusun materi pembelajaran teknis yang disesuaikan langsung dengan standar kebutuhan industri fiber optik.
  • Pelatihan & Workshop: Mengadakan sesi pelatihan berkelanjutan untuk peningkatan kompetensi siswa dan tenaga pendidik.
  • Pembentukan Kelas Industri: Membuka kelas khusus berbasis keahlian jaringan fiber optik.
  • Sertifikasi Industri: Menyelenggarakan uji kompetensi dan sertifikasi yang diakui secara nasional dan industri bagi para siswa.

Prosesi penandatanganan komitmen bersama ini dihadiri dan disahkan langsung oleh Pimpinan Jatim Teknologi, Bapak Payanto; Mengetahui Direktur Maspion IT, Bapak Ir. Okky Tri Hutomo, MIT; serta Kepala SMK Pawiyatan Surabaya, Bapak Andi Susanto, S.E., M.M yang diwakili oleh Bapak Denny Octaviano, S.E, M.M.

Kepala SMK Pawiyatan Surabaya, Andi Susanto, S.E., M.M., menyambut positif kemitraan ini. Penandatanganan LOI ini menjadi pijakan awal bagi kedua belah pihak untuk melangkah ke tahap Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang lebih mendalam, demi memastikan para siswa mendapatkan akses teknologi terbaru dan peluang karir yang lebih luas di bidang telekomunikasi dan jaringan. ~AA

SMK Pawiyatan Surabaya Gelar Cek Kesehatan Gratis Bersama Puskesmas Simomulyo untuk Wujudkan Generasi Sekolah yang Sehat dan Produktif

SURABAYA, 08 September 2026 – Sebagai wujud kepedulian terhadap kesehatan peserta didik sekaligus mendukung program strategis nasional, SMK Pawiyatan Surabaya bekerja sama dengan Puskesmas (PKM) Simomulyo Kecamatan Sukomanunggal sukses menyelenggarakan kegiatan Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada Selasa (8/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung di lingkungan sekolah ini menyasar para siswa dari berbagai tingkat dan program keahlian. Program Nasional Cek Kesehatan Gratis ini diluncurkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia guna memantau serta mendeteksi kondisi fisik serta kebugaran para remaja secara dini, sehingga proses belajar-mengajar di sekolah dapat berjalan secara optimal.

Tim tenaga medis dari PKM Simomulyo menerjunkan personel lengkap untuk melakukan serangkaian skrining kesehatan komprehensif. Pemeriksaan meliputi pengukuran indeks massa tubuh (berat dan tinggi badan), pemeriksaan ketajaman penglihatan dan pendengaran, cek hemoglobin (Hb) untuk mendeteksi anemia, tekanan darah, hingga pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut. Selain pemeriksaan fisik, para siswa juga mendapatkan edukasi seputar gaya hidup sehat dan pemenuhan gizi seimbang bagi remaja.

Kepala SMK Pawiyatan Surabaya, Andi Susanto, S.E, M.M menyambut baik sinergi yang terjalin dengan pihak Puskesmas Simomulyo. Menurutnya, kesehatan fisik merupakan fondasi utama bagi peserta didik untuk mencapai prestasi belajar dan siap menghadapi tantangan di dunia kerja maupun industri.

“Kesehatan siswa adalah prioritas kami. Melalui program CKG ini, kita tidak hanya mendeteksi potensi masalah kesehatan sejak dini, tetapi juga membangun kesadaran para siswa akan pentingnya menjaga pola hidup sehat. Kami sangat mengapresiasi kolaborasi dan pelayanan sigap dari tim PKM Simomulyo,” ujarnya di sela-sela kegiatan.

Antusiasme tinggi terlihat dari para siswa yang mengikuti alur pemeriksaan dengan tertib dan teratur. Kegiatan berjalan lancar dengan pendampingan penuh dari tim kesiswaan serta para guru SMK Pawiyatan Surabaya.

Melalui pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis ini, SMK Pawiyatan Surabaya menegaskan komitmennya untuk terus menciptakan lingkungan sekolah yang tidak hanya unggul secara akademis dan keahlian vokasi, tetapi juga mendukung tumbuh kembang fisik dan mental generasi muda yang sehat, tangguh, serta siap berkarya.~AA

SMK Pawiyatan Surabaya Terapkan RTS dari BNNP JATIM

Surabaya 04 Sept 2026 — Upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat, aman, dan bersih dari penyalahgunaan narkotika terus diperkuat oleh SMK Pawiyatan Surabaya. Salah satunya melalui keterlibatan siswa dalam program Remaja Teman Sebaya (RTS) yang digaungkan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) sebagai bagian dari penguatan ketahanan remaja terhadap penyalahgunaan narkoba.

Dalam program tersebut, SMK Pawiyatan Surabaya menjadi salah satu sekolah yang menerapkan program RTS di Kota Surabaya. Program ini menempatkan remaja sebagai bagian penting dalam membangun kesadaran di lingkungan sekolah. Melalui pendekatan teman sebaya, siswa diharapkan tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga mampu menjadi penggerak dan penyampai pesan positif kepada teman-temannya.

Keterlibatan SMK Pawiyatan juga sejalan dengan agenda BNN Provinsi Jawa Timur dalam memperkuat ketahanan diri remaja untuk mengenali dan menolak penyalahgunaan narkotika, termasuk penyalahgunaan narkotika melalui rokok elektronik atau vape. Dalam surat resminya, BNN Provinsi Jawa Timur mengangkat tema “Jangan Tertipu Asapnya, Pahami Bahayanya, Berani Tolak Penyalahgunaan Narkotika.”

Dua Siswa Dipercaya Menjadi Duta Sekolah

Sebagai bentuk nyata keterlibatan siswa, SMK Pawiyatan Surabaya menunjuk dua siswa untuk menjadi duta sekolah dalam menyampaikan pesan pencegahan kepada generasi muda.

Keduanya adalah Jonathan Raditya Alviano Pawani, siswa kelas XII DKV 1, yang dipercaya menjadi duta sekolah untuk sosialisasi bahaya narkoba, serta Annurruhullah Ramadhan, siswa kelas XII DKV 2, yang dipercaya menjadi duta sekolah untuk sosialisasi bahaya vape.

Penunjukan tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk menumbuhkan keberanian dan kepedulian siswa dalam menyampaikan edukasi kepada lingkungan sebayanya. Pesan pencegahan akan lebih mudah diterima ketika disampaikan oleh sesama remaja dengan bahasa dan pendekatan yang dekat dengan kehidupan mereka.

Foto : Annurruhullah Ramadhan Dan Jonathan Raditya Alviano Pawani

 

Jonathan: Remaja Bersinar, Remaja Bersih Narkoba

Dalam kegiatan sosialisasi program RTS yang dilaksanakan di aula SMK Pawiyatan Surabaya pada Jumat, 4 September 2026, Jonathan Raditya Alviano Pawani turut menyampaikan materi bertajuk “Remaja Bersinar — Bersih Narkoba.”

Materi tersebut mengangkat pentingnya membangun kesadaran sejak usia remaja. Jonathan menjelaskan bahwa remaja merupakan generasi penerus bangsa yang rentan terhadap pengaruh lingkungan. Karena itu, pemahaman mengenai bahaya narkoba menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan remaja untuk mengenali, menghindari, dan menolak penyalahgunaan narkotika.

Dalam pemaparannya, Jonathan juga mengajak teman-temannya memahami konsekuensi penyalahgunaan narkoba. Materi yang disampaikan mencakup dasar hukum narkotika di Indonesia, jenis dan golongan narkotika, dampak terhadap kesehatan fisik dan psikologis, serta berbagai dampak sosial yang dapat ditimbulkan. Penyalahgunaan narkoba tidak hanya berisiko terhadap kesehatan, tetapi juga dapat berdampak pada pendidikan, pekerjaan, hubungan keluarga, kehidupan sosial, dan masa depan remaja.

Jonathan juga menekankan pentingnya edukasi, dukungan keluarga, dan memilih lingkungan pergaulan yang positif sebagai bagian dari upaya pencegahan. Materi BNN yang disampaikannya menempatkan pengetahuan dan kesadaran sebagai bekal agar remaja mampu mengenali bahaya narkoba dan menghindarinya.

Pesan yang dibawa Jonathan sederhana namun kuat: jangan sampai narkoba menentukan masa depan generasi muda. Remaja harus berani mengambil keputusan yang sehat, menjaga pergaulan, dan memiliki keberanian untuk mengatakan tidak terhadap penyalahgunaan narkoba.

Membangun Budaya Saling Mengingatkan

Program Remaja Teman Sebaya tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi. Lebih jauh, program ini diharapkan mampu membangun budaya saling mengingatkan di antara siswa.

Masa remaja merupakan periode penting dalam pembentukan karakter, pengambilan keputusan, dan pencarian jati diri. Pada fase tersebut, pengaruh lingkungan dan teman sebaya memiliki peran yang cukup besar. Oleh sebab itu, membangun lingkungan pertemanan yang positif menjadi salah satu bagian penting dalam mencegah siswa terjerumus pada perilaku yang berisiko.

Melalui RTS, siswa didorong untuk menjadi teman yang peduli, teman yang mengingatkan, dan teman yang berani mengatakan tidak terhadap narkoba maupun penyalahgunaan vape.

Kehadiran Jonathan dan Annurruhullah sebagai duta sekolah menjadi representasi semangat tersebut. Mereka tidak hanya membawa nama sekolah dalam kegiatan yang berkaitan dengan BNN, tetapi juga diharapkan mampu meneruskan pesan edukasi kepada warga SMK Pawiyatan Surabaya.

Bersama Mewujudkan Generasi Bersih Narkoba

SMK Pawiyatan Surabaya memandang pencegahan penyalahgunaan narkoba sebagai bagian dari pendidikan karakter. Sekolah tidak hanya bertugas memberikan pengetahuan akademik dan keterampilan kejuruan, tetapi juga membekali siswa dengan kemampuan mengambil keputusan yang bertanggung jawab serta menjaga diri dan lingkungannya.

Keterlibatan dalam program Remaja Teman Sebaya menjadi salah satu bentuk komitmen tersebut. Dengan dukungan sekolah, keluarga, BNN, dan seluruh warga sekolah, diharapkan tumbuh generasi muda yang memiliki pengetahuan, keberanian, dan keteguhan untuk menolak penyalahgunaan narkoba.

Remaja bersinar bukan sekadar slogan. Ia adalah semangat untuk menjaga masa depan, membangun pergaulan yang sehat, dan bersama-sama menciptakan sekolah yang bersih dari narkoba. ~AA

LDKS OSIS SMK Pawiyatan Surabaya: Membentuk Karakter Pemimpin Muda yang Kritis, Kompak, dan Bertanggung Jawab

Pasuruan, 7 September 2026 — Sebanyak 82 siswa SMK Pawiyatan Surabaya mengikuti kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) OSIS yang digelar di TSOT Camp, Jl. Kaliandra, Dusun Gamoh, Desa Dayurejo, Prigen, Pasuruan, Senin (7/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 7–8 September 2026, ini diselenggarakan dengan menggandeng TSOT Outbound sebagai event organizer. Para peserta terdiri atas 66 siswa putri dan 16 siswa putra, yang mengikuti rangkaian kegiatan kepemimpinan dengan memadukan pembekalan materi, diskusi, serta aktivitas outbound di alam terbuka.

Dibuka Waka Kesiswaan

Rangkaian LDKS secara resmi dibuka oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMK Pawiyatan Surabaya, Bapak Lantip Rahmadi, M.M.

Dalam sambutannya, Lantip Rahmadi menekankan bahwa LDKS bukan sekadar kegiatan untuk memberikan pemahaman mengenai organisasi OSIS. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi sarana pembentukan karakter siswa agar memiliki bekal yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan, baik di lingkungan sekolah maupun dalam kehidupan bermasyarakat.

Ia menyampaikan bahwa melalui LDKS, siswa diharapkan mampu berpikir kritis, bekerja dalam tim, memiliki komitmen, serta bertanggung jawab terhadap tugas dan amanah yang diberikan.

Pesan tersebut menjadi landasan penting bagi peserta dalam mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Seorang pemimpin, menurut semangat yang dibangun dalam kegiatan ini, bukan hanya dituntut mampu memberikan arahan kepada orang lain, tetapi juga harus mampu mengambil keputusan secara bijak, menghargai anggota tim, memegang komitmen, dan bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil.

Tantangan Outbound, Belajar dari Pengalaman

Usai pembukaan dan kontrak belajar, peserta mengikuti diskusi kelompok sebelum memasuki kegiatan yang lebih menantang. Aktivitas Flying Fox menjadi salah satu pengalaman yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih keberanian dan kepercayaan diri.

Kegiatan kemudian berlanjut dengan Outbound Rally. Dalam aktivitas ini, kekompakan dan komunikasi antarpeserta menjadi bagian penting untuk menyelesaikan tantangan.

Di sinilah nilai kepemimpinan tidak hanya dibicarakan, tetapi dipraktikkan secara langsung. Peserta belajar bahwa sebuah tim dapat bekerja secara optimal ketika setiap anggotanya mampu berkomunikasi, saling mendukung, menjalankan peran, dan bertanggung jawab terhadap tujuan bersama.

Dari Keorganisasian hingga Manajemen Diri

Selain aktivitas luar ruang, peserta juga mendapatkan pembekalan melalui materi Keorganisasian dan Administrasi. Materi tersebut memberikan dasar pemahaman mengenai bagaimana sebuah organisasi dapat dikelola dengan baik dan tertib.

Saat berita ini disusun, peserta tengah mengikuti materi “Manajemen Diri”. Materi ini menjadi bagian penting dalam rangkaian LDKS karena kepemimpinan pada dasarnya diawali dari kemampuan seseorang dalam mengelola dirinya sendiri.

Peserta diajak memahami pentingnya kedisiplinan, pengelolaan waktu, menentukan prioritas, membangun komitmen, serta bertanggung jawab terhadap tugas yang telah diberikan.

Pembelajaran tersebut menjadi semakin relevan setelah peserta sebelumnya mengikuti berbagai aktivitas kelompok. Pengalaman di lapangan memberikan gambaran nyata bahwa keberhasilan sebuah kegiatan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga oleh kemampuan setiap anggota untuk mengendalikan diri, menjalankan peran, dan bekerja bersama.

Menyiapkan Kader OSIS yang Berkarakter

LDKS OSIS SMK Pawiyatan Surabaya diharapkan menjadi momentum bagi para peserta untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri, kritis, disiplin, mampu bekerja sama, berkomitmen, dan bertanggung jawab.

Dengan mengambil lokasi di kawasan alam terbuka Prigen, kegiatan ini memberikan pengalaman belajar yang berbeda dari pembelajaran di ruang kelas. Setiap tantangan menjadi media untuk belajar, setiap kerja sama menjadi latihan kepemimpinan, dan setiap tugas menjadi kesempatan untuk membangun rasa tanggung jawab.

Rangkaian LDKS hari pertama masih akan berlanjut hingga malam. Peserta dijadwalkan mengikuti Malam Inagurasi, yang diharapkan menjadi ruang untuk mempererat kebersamaan dan membangun kekompakan antarpeserta.

Dari TSOT Camp, Prigen — LDKS OSIS SMK Pawiyatan Surabaya bukan sekadar latihan menjadi pengurus organisasi. Ini adalah proses menempa karakter: belajar berpikir kritis, belajar bekerja sebagai tim, memegang komitmen, dan berani bertanggung jawab. ~AA

Konseling Cognitive Behavior (Kognitif-Perilaku) Untuk Menurunkan Prokrastinasi Akademik Siswa SMK Pawiyatan Surabaya

Oleh : Dewanti Ayu Pratiwi, S.Pd.

Bimbingan dan Konseling, SMK Pawiyatan Surabaya

Pendahuluan

Pelajar dengan kesulitan melaksanakan pekerjaan sesuai dengan batasan waktu tertentu, terus-menerus lalai dalam mengerjakan tugas, menyiapkan apapun secara berlebihan, serta gagal menyelesaikan tanggung jawab terhadap tugas tertentu yang telah ditentukan waktunya (out of deadline) disebut sebagai prokrastinator atau orang yang berprokrastinasi. Peristiwa kebiasaan menunda sesuatu dikenal dengan sebutan prokrastinasi. Prokrastinasi disebut sebagai bentuk perilaku yang tidak efisien atau kurang tepat dalam memposisikan jangka waktu.

Prokrastinasi berasal dari kata “procrastination” diawali kata “pro” berarti mendesak maju dengan diakhiri kata “crastinus” artinya putusan atau pilihan hari besoknya, apabila digabungkan memiliki makna mengulur atau mengundur ke hari berikutnya. Jadi sebutan prokrastinasi digunakan untuk menunjukan sikap mengulur-ulur terselesaikannya suatu tugas. Pelaku prokrastinasi merupakan individu dimana ia kurang mampu mengoptimalkan waktu yang dimiliki secara tepat serta sengaja berulang-ulang dalam mengulur serta mengerjakan tugas. Sejalan dengan pendapat Knaus (2002) bahwasanya penundaan diartikan sebagai aksi rutinitas atau kebiasaan dalam penguluran penugasan akademik, dimana itu termasuk sifat khas prokrastinasi. Dengan kata lain prokrastinasi merupakan bentuk konfrontasi penerimaan tugas yang tidak disenangi serta dianggap tidak berhasil sampai tuntas.

Berdasarkan permasalahan yang sering terjadi dalam proses pembelajaran di kelas, menyatakan bahwa prokrastinasi merupakan masalah yang sering terjadi pada siswa. Banyak siswa melakukan penundaan tugas dikarenakan adanya beberapa alasan, diantaranya seperti malas menyelesaikan penugasan dari guru mata pelajaran, bosan dengan banyaknya materi yang dijelaskan oleh guru mata pelajaran, sehingga tugas yang diberikan guru pun semakin banyak, kegiatan siswa setelah selesai pulang sekolah cenderung bermain, sehingga kurang bisa membagi waktu antara mengerjakan tugas dengan belajar, akibatnya siswa terkadang melebihi batas waktu pengumpulan tugas yang diberikan oleh guru. Hal ini sangat berdampak pada diri mereka sendiri, sehingga tugasnya berantakan dan ada perasaan tidak nyaman atau bahkan merasakan kecemasan ketika mengerjakan tugasnya. Oleh karena itu prokrastinasi hendaknya bisa diperbaiki siswa dan menjadi fokus konselor dalam membantu mengatasi permasalahan prokrastinasi agar bisa mengubah ataupun mengganti perilaku lamanya tersebut.

Prokrastinasi pada siswa terhadap tugasnya menimbulkan efek buruk atau dampak negatif, yaitu seperti menurunnya skor akademik secara drastis pada siswa, meninggalkan atau menarik diri dari lingkungan sekitarnya, adanya perilaku suka membolos sekolah, selalu mengalami perasaan frustasi, menyalahkan dan menjustifikasi kemampuan yang dimiliki, dihantui perasaan gelisah, dibayang-bayangi aksi kecurangan, mengalami serangan panik, serta cemas yang berlebih terhadap kualitas dirinya. Prokrastinasi yang tinggi, dapat ditangani dengan salah satu pendekatan konseling yaitu konseling cognitive behavior (kognitif-perilaku)

 

yang bertujuan mengalihkan spekulasi atau pola pikir buruk ke arah perubahan yang lebih baik, dimana tingkah laku menyimpang tersebut akan tergantikan menjadi tingkah laku yang tidak menyimpang. Ajaran paling penting cognitive behavior yaitu adanya perpaduan antara cara berpikir serta tingkah laku individu, yang menitikberatkan pada masalah afeksi juga tindakan dengan menggunakan restrukturisasi kognitif (perbaikan pola pikir) dimana itu menunjukan penyimpangan kognitif yang terganggu sehingga individu sanggup merubah persepsi tidak sehat tersebut. Pendekatan ini menjelaskan bahwasanya pengkombinasian cara berpikir dan berperilaku bisa menolong individu serta mengatur ulang suasana hati (mood) dan juga perilakunya berdasarkan perubahan yang menggoyahkan diri individu itu sendiri (Beck, 1993).

Tujuan konseling ini agar dapat melihat keefektifan konseling cognitive behavior (kognitif-perilaku) terhadap penurunan prokrastinasi akademik. Manfaat dari konseling ini sebagai sumber informasi maupun referensi dalam pengembangan ilmu pengetahuan pada bidang bimbingan dan konseling. Dengan adanya konseling cognitive behavior (kognitif-perilaku) ini diharapkan menjadi masukan dan evaluasi terhadap pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah, serta untuk penyusunan program semester ataupun tahunan yang menjadi dasar dalam mengimplementasikan proses pembelajaran yang baik dan efektif.

 

 

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan Quasi Experimental Design melalui rancangan penelitian Nonequivalent Control Group Design. Penelitian dilakukan dengan memberikan pre-test dan post-test dilangsungkan sebelum dan setelah diberikan perlakuan konseling cognitive behavior dan self-management. Rancangan penelitian ditunjukan sebagai berikut:

Keterangan:

O1 : Pretest kelompok eksperimen

X1 : Treatment layanan konseling kelompok cognitive behavior O2 : Posttest kelompok eksperimen

X2 : Treatment layanan konseling self-management O3 : Pre test kelompok kontrol

O4 : Post test kelompok kontrol

 

Populasinya yakni siswa kelas XII MP 2 dan XII AK 2 SMK Pawiyatan Surabaya sejumlah 63 responden dan sampel penelitian sebanyak 10 responden mempunyai prokrastinasi akademik tinggi, terdiri 5 responden kelas XII MP 2 selaku kelompok eksperimen, 5 responden kelas XII AK 2 selaku kelompok kontrol. Pemilihan sampel ditentukan dengan metode purposive sampling melalui skala likert terkait prokrastinasi akademik guna mendapatkan data penelitian sebagai instrumen penelitian yang sudah melewati validitas dan realibilitas, yang menghasilkan 19 item valid dan hasil reliabilitas sebesar 0,702 yang tergolong kuat. Untuk analisis datanya dengan Uji Mann-Whitney melalui SPSS for Windows Seri 26.0.

 

Hasil dan Diskusi

Manusia memiliki kebiasaan yang baik juga kurang baik dalam kehidupan sehari-harinya. Tidak semuanya bisa melepaskan kebiasaan tidak baik tersebut, sebagaimana sikap prokastinasi. Prokrastinasi adalah salah satu bentuk perilaku buruk yang sering dilakukan setiap individu terhadap aktivitas atau kegiatan tak berarti yang dilakukan dengan sengaja, oleh sebab itu dapat merugikan diri sendiri serta orang lain disekitarnya. Menunda tugas juga mempengaruhi kewajiban orang yang telah mengalaminya, khususnya dibidang pendidikan. Siswa menjadi tidak giat belajar serta sengaja lalai dalam tugasnya, dikarenakan senang melaksanakan urusan tidak penting sehingga kewajiban sebagai pelajar menjadi terlewatkan. Aspek individu yang memengaruhi penundaan tugas akademik terdiri dari 2, yaitu aspek intern dan ekstern. Untuk aspek internnya sendiri berupa kondisi atau keadaan fisik psikologi individu. Sedangkan untuk aspek eksternnya berupa kondisi lingkungan dan masalah pengelolaan waktu. Ferrari (1995) menjelaskan ciri-ciri individu dengan sengaja menerapkan atau membiasakan prokrastinasi akademik antara lain:

  1. Penundaan waktu dimulainya tugas yang dikerjakan

Seseorang dengan aksi maupun sengaja menjalankan prokrastinasi itu sebenernya sadar dan tahu bila tugas dihadapannya tersebut wajib terselesaikan juga bermanfaat untuk dirinya, namun ada penolakan yang menguasai dirinya, sehingga pekerjaan terdahulunya itu sengaja tidak dikerjakan dan akibatnya menjadi tidak kunjung beres atau selesai dengan tepat waktu sesuai dateline yg diberikan.

  1. Ketertinggalan atau keterlambatan melangsungkan penugasan

Prokrastinator perlu jangka waktu lebih lama lagi dari kebanyakan orang lain ketika berlangsungnya tugas yang harus diselesaikannya. Sehingga orang tersebut tidak berhasil merampungkan tugas yang ada didepan matanya dengan optimal karena lambannya kerja orang itu. Awalnya, prokrastinator akan merasakan perasaaan senang ataupun tenang ketika mengetahui dateline waktu masih lama, namun ketika dateline waktunya hampir dekat ia dihantui akan perasaan cemas dan takut, sehingga individu yang melakukan prokrastinasi tersebut terus-menerus membawa perasaan tidak nyaman untuk dirinya.

  1. Ketidakseimbangan durasi atau waktu antar rencana jadwal dan kerja aktual

Individu tersebut mungkin sudah mengupayakan dan berusaha untuk memulai pengerjaan tugas diwaktu yang telah ditentukan atau dijadwalkannya, namun ketika tetiba dateline sudah ada dihadapannya, ia tak kunjung melangsungkan tugas yang dia jadwalkan karena ia menemukan perbedaan antara keinginan dan tindakan (tidak sinkronnya keinginan mengerjakan tugas dengan tindakan aktual yang dilakukannya) alhasil tugasnya atau pekerjaannya pun menjadi terbengkalai.

  1. Menjalankan kegiatan yang mengasyikan ketimbang pengerjaan tugas yang semestinya dijalankan

Prokrastinator tersebut santai dan tidak terburu-buru ketika melaksanakan tugasnya, waktu yang dimiliki sengaja digunakan untuk aktivitas lain yang terasa lebih mengasyikan dan membawa suatu kesenangan, seperti membaca bacaan apapun selain pelajaran, menonton televisi atau melihat sebuah film, mengobrol bersama orang lain, liburan atau berwisata, serta mendengarkan lagu. Alhasil waktu yang dimilikinya tersita dan habis dengan percuma akibat kegiatan yang tidak bermanfaat tersebut.

 

Prokrastinasi akademik yang dimiliki oleh individu harus ditinggalkan demi terciptanya keberhasilan kinerja akademik. Sehingga proses perkembangan individu untuk jadi manusia yang penuh tanggung jawab pada tugas pun dapat dijalankan secara baik. Hal itu tak bisa dilakukan sendiri melainkan butuh bantuan orang lain. Guru BK terindikasi menjadi salah seorang ahli yang bisa dimintai tolong saat berlangsungnya proses pembelajaran. Upaya proses pemberian bantuan disebut dengan bimbingan dan konseling. Beberapa layanan yang ada di BK memiliki peran masing-masing, termasuk pendekatan konseling kognitif-perilaku. Pendekatan kognitif perilaku melalui layanan konseling kelompok akan membantu siswa mengubah perilaku prokrastinasi akademiknya. Proses pemberian layanan konseling kelompok kognitif-perilaku terdiri atas beberapa tahapan yang dijalankan yaitu tahapan pembentukkan, peralihan, kegiatan dan pengakhiran. Tahapan dilaksanakan 12 kali, memiliki kegiatan yang berbeda-beda di setiap pertemuan. Pertemuan pertama dilakukan perkenalan baik dari peneliti dan siswa yang menjadi subjek penelitian. Pembinaan hubungan baik dilakukan agar menimbulkan suasana akrab dan nyaman. Selanjutnya diberikan penjelasan tentang alasan memilih mereka sebagai subjek penelitian dan membagikan deskripsi secara singkat atau ringkas tentang proses konseling kelompok. Kemudian semua anggota

menyetujui dan bersedia melangsungkan kegiatan secara konsisten sampai akhir kegiatan.

Pertemuan kedua dimulai dengan melakukan ice breaking terlebih dahulu agar suasana menjadi lebih santai dan menyenangkan. Setelah selesai dilakukan, peneliti memberikan penjelasan mengenai konseling kelompok, tujuan, serta asas yang harus dipatuhi selama kegiatan berlangsung. Selain itu diberikan penjelasan mengenai pengertian dan perilaku prokrastinasi akademik yang akan dilakukan dalam proses konseling kelompok. Konselor juga menjelaskan pendekatan kognitif-perilaku yang dipakai pada konselng kelompok ini. Sehingga anggota lebih paham dengan maksud kegiatan yang berlangsung.

Pertemuan ketiga dilakukan tahap asesmen dan diagnosa, peneliti melakukan asesmen hingga menyeluruh secara detail dengan memberikan persoalan mencakup aksi atau tindakan prokrastinasi yang dilakukan anggota kelompok. Soal pertama guna mencari informasi tentang perasaan dan pemikiran yang timbul setelah diberikan tugas oleh guru. Pertanyaan kedua yakni menelusuri perbuatan anggota kelompok setelah diberi beberapa tugas oleh guru. Pertanyaan ketiga yakni terkait pikiran dan perasaan yang timbul pada saat mengerjakan tugas yang diberikan guru. Pertanyaan keempat yakni terkait upaya apa yang sudah dilakukan semua anggota agar bisa memberantas aksi prokrastinasi tersebut, sehingga mereka semua bisa mengganti perilaku lamanya dengan perilaku baru yang membawa hasil baik.

Pertemuan keempat yakni dengan memberikan restrukturisasi kognitif yang mana konseli dibuat sadar akan pikiran tidak masuk akalnya tersebut. Pemimpin kelompok menyuruh para anggota untuk memunculkan pemikiran yang tak masuk akal tersebut yang menimbulkan tindakan prokrastinasi dengan terus menerus mengamati cara berpikir semua anggota.

Pertemuan kelima membahas mengenai kerugian dan akibat buruk yang telah diperoleh semua anggota ketika melangsungkan prokrastinasi beserta kiat mengelola waktu yang optimal serta efektif agar tidak lagi menjalankan tindakan prokrastinasi melalui sesi tanya jawab dan diskusi bersama. Dengan adanya sesi tanya jawab dan diskusi bersama, semua anggota akan aktif mengeluarkan pendapatnya juga memudahkan anggota dalam mencari solusi dari masalahnya.

Pertemuan keenam dimulai dengan membahas disiplin belajar dan upaya belajar secara tepat ataupun optimal. Dilakukan agar anggota kelompok bisa terus mengarahkan kualitas

 

pribadinya sehinga selalu rutin melaksanakan pekerjaan maupun tugas yang diberikan dengan tidak lagi menganggap remeh dan mengentengkan suatu tugas.

Pertemuan ketujuh yaitu anggota memikirkan kiat berfikir positif untuk menghasilkan tujuan agar anggota paham bahwasanya prokrastinasi belajar merupakan perbuatan tercela yang tak bermanfaat sama sekali bagi murid perihal prestasi dibidang belajarnya. Sehinggga tindakan prokrastinasi belajar diharapkan akan berkurang sedikit demi sedikit.

Pertemuan kedelapan adalah sesi pertama modifikasi perilaku, peneliti memberikan pemahaman terkait pemicu-pemicu perilaku prokrastinasi anggota kelompok. Konseli bersama konselor merumuskan cara alternatif menurunkan prokrastinasi yaitu dengan belajar menghargai waktu, tidak menganggap enteng tugas dengan cara mencicil mengerjakan tugas, membentuk kelompok belajar dan keyakinan atas kapasitas pribadinya saat menyelesaikan semua tugasnya. Anggota kelompok kemudian melakukan dan menerapkan cara alternatif tersebut di rumah.

Pertemuan kesembilan merupakan sesi kedua modifikasi perilaku, peneliti meminta semua anggota kelompok untuk memilih satu orang yang sangat dipercayainya, baik itu teman ataupun keluarga yang mana orang terpercayanya tersebut dijadikan sebagai pengingat/alarm untuk tidak melakukan tindakan prokrastinasi akademik. Hal ini dilakukan guna membawa perubahan perilaku pada anggota kelompok.

Pertemuan kesepuluh yaitu tahap evaluasi, konselor memberikan kesimpulan akhir mengenai layanan konseling kelompok yang dilakukan. Pada tahap ini konselor dan konseli saling bekerjasama dengan baik, sehingga hasil pelaksanaan konseling berhasil dan berjalan dengan efektif sesuai tujuan yang diharapkan. Konseli juga antusias mengikuti konseling kelompok dan merasa sangat terbantu dalam menemukan solusi dari permasalahan prokrastinasi akademiknya.

Pertemuan kesebelas merupakan tahap pengakhiran, dimana semua konseli saling menyampaikan kesan dan pesan selama mengikuti proses konseling tersebut. Konseli bisa mengembangkan rasa percaya dirinya, konseli menjadi lebih mandiri dan mampu mengatasi kesulitan dalam meyelesaikan masalah mereka sendiri dan berhasil mencari jalan keluar sehingga masalahnya bisa teratasi.

Pertemuan keduabelas yaitu peneliti melaksanakan postest dengan membagikan link google form, ini menunjukan bahwa kegiatan telah selesai. Peneliti menyampaikan terima kasih pada responder karena telah turut aktif dalam awal mulai hingga rampungnya kegiatan, kemudian peneliti memberi hadiah kepada semua anggota.

Berdasarkan Hipotetis dalam penelitian guna mengetahui apakah terdapat efektivitas penerapan konseling kelompok kognitif-perilaku terhadap prokrastinasi akademik siswa. Penelitian menujukan hasil dengan hipotetis diterima yang diartikan ada perbedaan prokrastinasi akademik siswa pada pretest dan posttest. Berikut merupakan pemaparan hasil pretest dan postest yang dilakukan sebelum dan sesudah diberikan konseling kelompok kognitif-perilaku pada kelompok eksperimen dan konseling kelompok self-managament pada kelompok kontrol.

Berdasarkan grafik diatas menunjukkan hasil skor setiap siswa berada pada kategori tinggi, kemudian mengalami penurunan pada tiap siswa menjadi rendah. Hasil yang terlihat menunjukkan bahwa adanya penurunan pada prokrastinasi akademik siswa. Penerapan konseling cognitive behavior untuk menurunkan prokrastinasi akademik dilakukan dengan uji mann whitney melalui aplikasi SPSS 26.0. Berikut merupakan deskripsi masing-masing siswa sebelum dan sesudah diberikan treatment konseling kelompok kognitif-perilaku dan self-management.

Konseli MFH, sebelum diberikan perlakuan memiliki skor 59 sedangkan setelah pemberian perlakuan konseling kelompok kognitif-perilaku memiliki penurunan dalam prokrastinasi akademiknya dengan penurunan skor 40. Sehingga memiliki selisih skor 19 sebelum dan setelah pemberian layanan yang termasuk dalam kategori rendah. Pada awal pemberian treatment hingga akhir, konseli MFH aktif mengutarakan pendapatnya di setiap pertemuan. Konseli MFH juga antusias ketika kegiatan berlangsung, suka mencairkan suasana dan mudah bergaul dengan teman-temannya.

Konseli NSM, sebelum diberikan perlakuan memiliki skor 57 sedangkan setelah pemberian perlakuan konseling kelompok kognitif-perilaku memiliki penurunan dalam prokrastinasi akademiknya dengan penurunan skor 41. Sehingga memiliki selisih skor 16 sebelum dan setelah pemberian layanan yang termasuk dalam kategori rendah. Pada awal pemberian treatment hingga akhir, konseli NSM juga aktif mengutarakan pendapatnya di setiap pertemuan, namun terkadang banyak bercanda saat mengutarakan pendapatnya.

Konseli RMZ, sebelum diberikan perlakuan memiliki skor 60 sedangkan setelah pemberian perlakuan konseling kelompok kognitif-perilaku memiliki penurunan dalam prokrastinasi akademiknya dengan penurunan skor 37. Sehingga memiliki selisih skor 23 sebelum dan setelah pemberian layanan yang termasuk dalam kategori rendah. Pada awal pemberian treatment konseli RMZ masih sering diam ketika mengutarakan pendapatnya, namun di pertemuan keempat sudah mulai berani berpendapat dan aktif hingga akhir pertemuan.

Konseli RRS, sebelum diberikan perlakuan memiliki skor 58 sedangkan setelah pemberian perlakuan konseling kelompok kognitif-perilaku memiliki penurunan dalam prokrastinasi akademiknya dengan penurunan skor 41. Sehingga memiliki selisih skor 17 sebelum dan setelah pemberian layanan yang termasuk dalam kategori rendah. Pada awal pemberian treatment konseli RRS sangat aktif dalam mengutarakan pendapatnya di setiap pertemuan.

Konseli YDA, sebelum diberikan perlakuan memiliki skor 61 sedangkan setelah pemberian perlakuan konseling kelompok kognitif-perilaku memiliki penurunan dalam prokrastinasi akademiknya dengan penurunan skor 38. Sehingga memiliki selisih skor 23 sebelum dan setelah pemberian layanan yang termasuk dalam kategori rendah. Pada awal pemberian treatment konseli YDA sangat aktif dalam mengutarakan pendapatnya di setiap pertemuan dan sangat antusias mengikuti kegiatan. Konseli YDA selalu mengingatkan anggota yang suka bercanda ketika kegiatan akan segera dimulai.

Konseli AH, sebelum diberikan perlakuan memiliki skor 56 sedangkan setelah pemberian perlakuan konseling kelompok self-management memiliki penurunan dalam prokrastinasi akademiknya dengan penurunan nilai skor 50. Sehingga memiliki selisih skor 6 sebelum dan setelah pemberian layanan yang termasuk dalam kategori rendah. Pada awal pemberian treatment konseli AH aktif mengutarakan pendapatnya di setiap pertemuan dan

 

paling banyak menyumbang ide, sehingga proses konseling menjadi aktif dan kegiatan berjalan dengan baik.

Konseli BAW, sebelum diberikan perlakuan memiliki skor 59 sedangkan setelah pemberian perlakuan konseling kelompok self-management memiliki penurunan dalam prokrastinasi akademiknya dengan penurunan nilai skor 51. Sehingga memiliki selisih skor 8 sebelum dan setelah pemberian layanan yang termasuk dalam kategori rendah. Pada awal pemberian treatment konseli BAW sangat aktif mengutarakan pendapatnya di setiap pertemuan.

Konseli GIB, sebelum diberikan perlakuan memiliki skor 54 sedangkan setelah pemberian perlakuan konseling kelompok self-management memiliki penurunan dalam prokrastinasi akademiknya dengan penurunan nilai skor 46. Sehingga memiliki selisih skor 8 sebelum dan setelah pemberian layanan yang termasuk dalam kategori rendah. Pada awal pemberian treatment konseli GIB bersikap malu saat mengutarakan pendapatnya, tetapi di pertemuan ketiga sudah mulai berani berpendapat hingga akhir pertemuan.

Konseli JCP, sebelum diberikan perlakuan memiliki skor 55 sedangkan setelah pemberian perlakuan konseling kelompok self-management memiliki penurunan dalam prokrastinasi akademiknya dengan penurunan nilai skor 49. Sehingga memiliki selisih skor 6 sebelum dan setelah pemberian layanan yang termasuk dalam kategori rendah. Pada awal pemberian treatment konseli JCP sangat aktif dan antusias untuk mengutarakan pendapatnya, konseli JCP juga menegur anggota jika ada yang kurang serius ketika kegiatan berlangsung.

Konseli SFR, sebelum diberikan perlakuan memiliki skor 57 sedangkan setelah pemberian perlakuan konseling kelompok self-management memiliki penurunan dalam prokrastinasi akademiknya dengan penurunan nilai skor 48. Sehingga memiliki selisih skor 9 sebelum dan setelah pemberian layanan yang termasuk dalam kategori rendah. Pada awal pemberian treatment konseli SFR sangat aktif ketika mengutarakan pendapatnya, konseli SFR juga mengingatkan anggota jika ada yang kurang serius ketika kegiatan akan dimulai.

Penelitian ini menerapkan konseling kelompok kognitif-perilaku sebagai perlakuan utama yang dijalankan peneliti guna menurunkan prokrastinasi akademik murid. Agar penelitian terbukti jauh lebih efektif maka dilaksanakan juga konseling kelompok self-management sebagai pembanding. Sejalan dengan Setiyana (2018) konseling kelompok cognitive behavior merupakan pendekatan yang bisa membantu memperbaiki motif berpikir murid secara tak logis berubah jadi logis merujuk pada tuntutan persoalan belajar yang baginya tak bermanfaat dan membebankan.

Oleh karena itu pendekatan kognitif-perilaku sangat efektif digunakan untuk menurunkan masalah prokrastinasi akademik. Penerapan strategi pengelolaan diri melatih siswa untuk mandiri dan tanggung jawab dalam kebiasaan belajarnya, yang meliputi aktivitas rencana belajar sesuai jadwal yang ditentukan tanpa mengulur periode belajar saat mengerjakan tugas (Pravesti, 2015).

Untuk hasil uji analisis dengan mengunakan uji mann whitney yang memiliki ketentuan bahwa bila skor Asymp.Sig< (0.05) maka dapat diketahui adanya pengaruh signfikan. Didapatkan Asymp Sig. (2-tailed) pada penelitian ini 0,009. Jika dibandingkan 0,009 < 0,05 dinyatakan hipotesis diterima dan terbukti adanya perbedaan signifikansi antara penerapan konseling kelompok self-management dengan konseling kelompok cognitive behavior (kognitif-perilaku) terhadap prokrastinasi akademik siswa. Melalui pemaparan diatas dibuktikan penggunaan kognitif-perilaku terbukti efekif dalam menurunkan prokrastinasi akademik siswa yang rendah.

 

Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan maka bisa ditarik suatu kesimpulan bahwasanya dengan memberikan layanan konseling kelompok kognitif-perilaku dapat memberikan penurunan terhadap prokastinasi akademik siswa SMK Pawiyatan Surabaya. Prokrastinasi akademik siswa sebelum mendapatkan kegiatan konseling kognitif-perilaku tergolong tinggi, namun setelah diberikan layanan maka prokrastinasi akademik siswa mengalami penurunan. Melihat hasil uji hipotesis menjelaskan bahwasanya terdapat perbedaan prokrastinasi akademik siswa sebelum treatment diberikan dan setelah treatment diberikan. Jadi, dapat disimpukan konseling kelompok kognitif-perilaku terbilang efektif dalam menurunkan prokastinasi akademik siswa SMK Pawiyatan Surabaya.

Layanan konseling kelompok menggunakan teknik kognitif-perilaku ini teruji mampu membantu menstimulus perilaku yang salah pada diri peserta didik, maka dari itu konselor diharapkan menggunakan teknik ini guna sebagai wadah dalam program bimbingan dan konseling sebagaimana mampu mereduksi perilaku buruk konseli, karena implementasi teknik ini memberikan motivasi dan dampak positif bagi siswa.

Bagi para pelajar, perilaku prokrastinasi akademik bisa berkurang dengan adanya konseling kelompok teknik kognitif-perilaku sehingga siswa diharapkan untuk terus konsisten mengembangkan perilaku positif dan selalu mengimplementasikannya secara intens dengan memberikan pemikiran dan penguatan positif sehingga selalu bertanggung jawab atas perilakunya.

 

 

Daftar Pustaka

Beck, A.T. (1993). Cognitive therapy: Past, present, and future. Journal of Consulting and Clinical Psychology, 61(2), 194-198. https://doi.org/10.1037/0022-006X.61.2.194.

Ferrari, J. R., Johnson, J. L., & McCown, W. G. (1995). Procrastination and task avoidance: Theory, research, and treatment. New York: Plenum Press.

Knaus. (2002). The Procrastination Workbook. New Harbinger: Publication, Inc.

Pravesti, C.A. (2015). Strategi Self-Management Untuk Meningkatkan Kebiasaan Belajar Siswa. Wahana Tridarma Perguruan Tinggi 65 (2), 67-76.

https://doi.org/10.36456/wahana.v65i2.257

Setiyana, S. (2018). Pengaruh Konseling Kelompok Teknik Cognitive Behavioral Therapy Terhadap Penurunan Prokrastinasi Akademik Siswa Kelas X SMK Muhammadiyah 1 Bandongan. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling. Universitas Muhammadiyah Magelang.

Supervisi Guru SMK Pawiyatan Surabaya: Mendorong Peningkatan Kualitas Pembelajaran

Surabaya, 13 Agustus 2026 — SMK Pawiyatan Surabaya melaksanakan kegiatan Supervisi Guru yang berlangsung mulai tanggal 27 Juli hingga 13 Agustus 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya sekolah dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran sekaligus mendorong pengembangan kompetensi profesional para guru.

Pelaksanaan supervisi melibatkan Wakil Kepala Sekolah dan Ketua Kompetensi Keahlian (K3) sebagai supervisor. Sementara itu, guru yang menjadi sasaran supervisi merupakan guru-guru yang telah ditetapkan berdasarkan jadwal supervisi yang disusun oleh Tim Kurikulum SMK Pawiyatan Surabaya.

Dalam pelaksanaannya, supervisor melakukan observasi secara langsung terhadap proses pembelajaran yang berlangsung di kelas. Beberapa aspek yang menjadi perhatian antara lain kesiapan guru dalam melaksanakan pembelajaran, penyampaian tujuan pembelajaran, penguasaan materi, penerapan metode dan strategi pembelajaran, pemanfaatan media dan teknologi, pengelolaan kelas, interaksi dengan peserta didik, serta pelaksanaan asesmen.

Kegiatan supervisi tidak hanya berorientasi pada penilaian, tetapi juga menjadi sarana refleksi dan pembinaan bagi guru. Melalui observasi dan diskusi setelah pembelajaran, guru memperoleh masukan mengenai praktik pembelajaran yang telah berjalan dengan baik serta aspek-aspek yang masih dapat dikembangkan.

Supervisi juga menjadi momentum bagi sekolah untuk membangun budaya evaluasi dan perbaikan berkelanjutan. Dengan adanya umpan balik yang konstruktif, guru diharapkan dapat terus mengembangkan metode pembelajaran yang inovatif, adaptif terhadap kebutuhan peserta didik, serta selaras dengan perkembangan teknologi dan tuntutan dunia pendidikan.

Pelaksanaan supervisi yang terjadwal dan sistematis ini menjadi salah satu bentuk komitmen SMK Pawiyatan Surabaya dalam menjaga dan meningkatkan mutu pembelajaran. Sekolah berharap kegiatan tersebut dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan kompetensi guru dan pada akhirnya memberikan pengalaman belajar yang lebih efektif, bermakna, dan relevan bagi seluruh peserta didik.

Supervisi bukan sekadar menilai, tetapi menjadi bagian dari proses bersama untuk belajar, melakukan refleksi, dan terus meningkatkan kualitas pembelajaran. ~AA

Peran Pendidikan Agama Islam Dalam Membentuk Karakter Dan Etika Digital Siswa SMK Di Era Society 5.0

Oleh Fifin Dayanti, M.PAI

Abstrak

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan peserta didik, termasuk dalam cara belajar, berkomunikasi, mencari informasi, dan berinteraksi di media sosial. Di satu sisi, teknologi memberikan banyak kemudahan dan peluang bagi siswa untuk mengembangkan potensi diri. Namun, di sisi lain, penggunaan teknologi tanpa diimbangi dengan karakter dan etika dapat menimbulkan berbagai persoalan, seperti penyebaran informasi yang tidak benar, perundungan di dunia maya, penggunaan bahasa yang kurang santun, plagiarisme, hingga ketergantungan terhadap media digital.

Dalam kondisi tersebut, Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran penting dalam membentuk karakter peserta didik agar mampu menggunakan teknologi secara bijak, bertanggung jawab, dan berlandaskan nilai-nilai Islam. Pembelajaran PAI di sekolah kejuruan tidak cukup hanya memberikan pemahaman tentang ibadah dan pengetahuan keagamaan, tetapi juga perlu membangun akhlak yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata, termasuk kehidupan di ruang digital. Artikel ini membahas pentingnya penguatan nilai kejujuran, tanggung jawab, tabayyun, kesantunan, dan sikap moderat melalui pembelajaran PAI di SMK Pawiyatan Surabaya.

Kata kunci: Pendidikan Agama Islam, karakter, etika digital, siswa SMK, Society 5.0.

1. Pendahuluan

Perkembangan zaman telah mengubah cara manusia menjalani kehidupan. Kehadiran internet, media sosial, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), serta berbagai platform digital membuat informasi dapat diperoleh dengan sangat cepat. Bagi generasi muda, teknologi bukan lagi sesuatu yang asing. Smartphone dan media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan generasi yang dipersiapkan untuk memiliki kompetensi sesuai dengan dunia kerja. Oleh karena itu, selain memiliki keterampilan profesional, siswa juga membutuhkan karakter yang kuat. Dunia kerja tidak hanya membutuhkan seseorang yang mampu bekerja dengan baik, tetapi juga membutuhkan pribadi yang jujur, disiplin, bertanggung jawab, mampu bekerja sama, dan memiliki etika.

Dalam konteks tersebut, Pendidikan Agama Islam memiliki posisi yang sangat penting. PAI bukan sekadar mata pelajaran yang membahas hukum ibadah, ayat Al-Qur’an, hadis, atau sejarah Islam. Lebih jauh, PAI merupakan proses pendidikan yang diharapkan mampu membentuk manusia yang memiliki hubungan baik dengan Allah, sesama manusia, dan lingkungan.

Tantangan pendidikan saat ini adalah bagaimana nilai-nilai agama dapat hadir dalam kehidupan siswa yang semakin dekat dengan dunia digital. Seorang siswa mungkin mampu memahami pentingnya kejujuran ketika berada di kelas, tetapi apakah nilai kejujuran tersebut juga diterapkan ketika mengerjakan tugas menggunakan AI? Apakah siswa mampu melakukan tabayyun sebelum membagikan sebuah berita? Apakah siswa tetap menjaga sopan santun ketika memberikan komentar di media sosial?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran PAI perlu terus berkembang mengikuti perubahan zaman.

2. PAI dan Tantangan Generasi Digital

Generasi digital memiliki akses informasi yang sangat luas. Dalam hitungan detik, siswa dapat memperoleh berbagai informasi dari internet. Kondisi ini merupakan peluang sekaligus tantangan.

Informasi yang tersedia di internet tidak semuanya benar dan sesuai dengan nilai-nilai pendidikan. Siswa dapat menemukan berita palsu, ujaran kebencian, konten yang tidak mendidik, bahkan berbagai bentuk perilaku yang dapat memengaruhi karakter mereka. Karena itu, siswa perlu memiliki kemampuan untuk memilih, menyaring, dan menggunakan informasi secara bijaksana.

Islam sendiri mengajarkan pentingnya memeriksa kebenaran sebuah informasi. Prinsip tersebut dikenal dengan istilah tabayyun. Dalam QS. Al-Hujurat ayat 6, umat Islam diperintahkan untuk melakukan pemeriksaan terhadap informasi sebelum mengambil tindakan. Nilai tabayyun sangat relevan dengan kehidupan digital saat ini. Sebelum membagikan berita melalui WhatsApp, Instagram, TikTok, atau platform lainnya, seorang siswa perlu bertanya:

“Apakah informasi ini benar?”

“Apakah sumbernya dapat dipercaya?”

“Apakah membagikan informasi ini akan memberikan manfaat atau justru merugikan orang lain?”

Pertanyaan sederhana tersebut merupakan bentuk penerapan ajaran agama dalam kehidupan modern.

3. Membangun Etika Digital melalui Pembelajaran PAI

Etika digital dapat dipahami sebagai sikap dan perilaku yang baik ketika seseorang menggunakan teknologi dan berinteraksi di dunia maya. Nilai-nilai Islam memiliki hubungan yang sangat erat dengan etika digital. Beberapa nilai yang dapat dikembangkan melalui pembelajaran PAI antara lain:

a. Kejujuran

Kejujuran merupakan salah satu akhlak utama dalam Islam. Dalam dunia pendidikan, kejujuran dapat diterapkan melalui kebiasaan mengerjakan tugas secara mandiri dan tidak melakukan plagiarisme.

Pada era AI, tantangan kejujuran menjadi semakin kompleks. Teknologi AI dapat membantu siswa mencari ide dan memahami materi, tetapi penggunaannya perlu disertai tanggung jawab akademik. Siswa perlu memahami bahwa teknologi seharusnya menjadi alat bantu belajar, bukan sarana untuk menghilangkan proses belajar.

b. Tanggung Jawab

Setiap aktivitas digital meninggalkan jejak. Tulisan, komentar, foto, maupun video yang dibagikan dapat memberikan dampak kepada diri sendiri maupun orang lain. Karena itu, siswa perlu memahami bahwa kebebasan berekspresi harus disertai tanggung jawab. Jangan sampai sebuah komentar yang dianggap sebagai candaan justru menyakiti orang lain.

c. Kesantunan dalam Berkomunikasi

Islam mengajarkan umatnya untuk berkata baik. Prinsip ini dapat diterapkan dalam komunikasi digital. Siswa perlu memahami bahwa orang yang berada di balik layar tetap merupakan manusia yang memiliki perasaan. Perbedaan pendapat tidak harus berakhir dengan pertengkaran. Budaya komentar yang santun merupakan salah satu bentuk akhlak mulia di era digital.

d. Tabayyun

Kecepatan informasi sering kali membuat seseorang langsung percaya dan menyebarkan berita tanpa melakukan pemeriksaan. Melalui pembelajaran PAI, siswa dapat dilatih untuk membiasakan diri memeriksa sumber informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya.

e. Menjaga Kehormatan Orang Lain

Islam mengajarkan pentingnya menjaga kehormatan sesama manusia. Dalam kehidupan digital, hal tersebut dapat diterapkan dengan tidak menyebarkan foto, video, percakapan, atau informasi pribadi seseorang tanpa izin. Siswa juga perlu memahami bahwa membuat konten yang mempermalukan orang lain bukanlah bentuk hiburan yang baik.

4. PAI yang Dekat dengan Kehidupan Siswa SMK

Pembelajaran PAI akan lebih bermakna apabila materi yang diberikan memiliki hubungan dengan kehidupan peserta didik. Misalnya, ketika membahas materi akhlak, guru dapat mengajak siswa mendiskusikan kasus yang mereka temui di media sosial.

Ketika membahas kejujuran, siswa dapat diajak berdiskusi tentang penggunaan AI dalam mengerjakan tugas.

Ketika membahas tabayyun, siswa dapat diberikan contoh berita viral kemudian diminta mencari sumber informasi yang terpercaya.

Ketika membahas muamalah, siswa dapat diajak membicarakan etika berjualan secara online, melakukan transaksi digital, dan memberikan pelayanan kepada konsumen.

Dengan pendekatan seperti ini, PAI tidak lagi dipandang sebagai pelajaran yang hanya berbicara tentang teori agama, tetapi menjadi pembelajaran yang memberikan bekal kepada siswa untuk menghadapi kehidupan nyata.

5. Peran Guru PAI sebagai Teladan

Guru memiliki peran penting dalam pembentukan karakter siswa. Pendidikan karakter tidak cukup dilakukan melalui nasihat, tetapi juga melalui keteladanan. Guru PAI perlu menunjukkan bagaimana menggunakan teknologi secara bijak. Guru dapat menjadi contoh dalam berkomunikasi di media sosial, menggunakan sumber informasi yang terpercaya, menghargai perbedaan pendapat, serta memanfaatkan teknologi untuk pembelajaran.

Hubungan antara guru dan siswa juga perlu dibangun atas dasar komunikasi yang humanis. Siswa bukan hanya objek pembelajaran, tetapi individu yang sedang tumbuh dan membutuhkan pendampingan.

Guru PAI dapat menjadi sosok yang membantu siswa memahami bahwa menjadi seorang muslim di era digital bukan berarti menjauhi teknologi, tetapi mampu menggunakan teknologi dengan nilai-nilai Islam.

6. Implementasi di SMK Pawiyatan Surabaya

Dalam lingkungan SMK Pawiyatan Surabaya, penguatan karakter melalui PAI dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan sederhana dan kontekstual. Beberapa kegiatan yang dapat diterapkan antara lain:

Gambar 1. Siswa berdiskusi tentang maraknya penyebaran hoak di media sosial
  1. Diskusi kasus media sosial, dengan mengambil contoh permasalahan yang dekat dengan kehidupan siswa.
  2. Proyek kampanye digital positif, misalnya membuat poster atau video pendek tentang kejujuran, sopan santun, anti-bullying, dan tabayyun.
  3. Literasi informasi, yaitu melatih siswa membedakan informasi yang valid dan informasi yang belum terbukti kebenarannya.
  4. Refleksi penggunaan media sosial, dengan mengajak siswa mengevaluasi kebiasaan digital mereka.
  5. Etika penggunaan AI, dengan memberikan pemahaman mengenai penggunaan AI secara jujur, bertanggung jawab, dan tetap mempertahankan proses berpikir siswa.
  6. Pembiasaan akhlak, seperti berdoa sebelum kegiatan belajar mengajar berlangsung , mengucapkan salam, sopan santun, disiplin, menjaga kebersihan, menghargai guru dan teman, serta bertanggung jawab terhadap tugas.

Gambar 2. Siswa membuat video tentang adab seorang pelajar

Kegiatan tersebut dapat menjadikan pembelajaran PAI lebih aktif, relevan, dan dekat dengan kehidupan siswa.

Gambar 3. Kegiatan berdoa bersama sebelum kegiatan belajar dimulai

7. Kesimpulan

Perkembangan teknologi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan generasi muda. Oleh karena itu, pendidikan agama perlu hadir di tengah perubahan tersebut. Pendidikan Agama Islam di SMK memiliki peran strategis dalam membentuk siswa yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik dan keterampilan kerja, tetapi juga memiliki karakter dan akhlak yang baik.

Nilai kejujuran, tanggung jawab, tabayyun, kesantunan, menghargai sesama, dan menjaga kehormatan orang lain merupakan nilai-nilai Islam yang sangat relevan dengan kehidupan digital.

Pada akhirnya, tujuan pembelajaran PAI bukan sekadar membuat siswa mengetahui mana yang benar dan salah, tetapi membantu mereka memiliki kesadaran untuk memilih dan melakukan hal yang benar, baik ketika berada di sekolah, di tempat kerja, di lingkungan keluarga, maupun ketika berada di dunia digital.

Dengan demikian, teknologi dapat menjadi sarana untuk berkembang, bukan sumber masalah; dan generasi muda dapat tumbuh menjadi generasi yang cerdas secara digital, kuat secara karakter, serta berakhlak mulia.

Daftar Pustaka

Al-Qur’an.

Kementerian Agama Republik Indonesia. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Kementerian Agama RI.

Majid, Abdul. Belajar dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nata, Abuddin. Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia. Jakarta: Rajawali Pers.

Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.