Oleh Fifin Dayanti, M.PAI
Abstrak
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan peserta didik, termasuk dalam cara belajar, berkomunikasi, mencari informasi, dan berinteraksi di media sosial. Di satu sisi, teknologi memberikan banyak kemudahan dan peluang bagi siswa untuk mengembangkan potensi diri. Namun, di sisi lain, penggunaan teknologi tanpa diimbangi dengan karakter dan etika dapat menimbulkan berbagai persoalan, seperti penyebaran informasi yang tidak benar, perundungan di dunia maya, penggunaan bahasa yang kurang santun, plagiarisme, hingga ketergantungan terhadap media digital.
Dalam kondisi tersebut, Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran penting dalam membentuk karakter peserta didik agar mampu menggunakan teknologi secara bijak, bertanggung jawab, dan berlandaskan nilai-nilai Islam. Pembelajaran PAI di sekolah kejuruan tidak cukup hanya memberikan pemahaman tentang ibadah dan pengetahuan keagamaan, tetapi juga perlu membangun akhlak yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata, termasuk kehidupan di ruang digital. Artikel ini membahas pentingnya penguatan nilai kejujuran, tanggung jawab, tabayyun, kesantunan, dan sikap moderat melalui pembelajaran PAI di SMK Pawiyatan Surabaya.
Kata kunci: Pendidikan Agama Islam, karakter, etika digital, siswa SMK, Society 5.0.
1. Pendahuluan
Perkembangan zaman telah mengubah cara manusia menjalani kehidupan. Kehadiran internet, media sosial, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), serta berbagai platform digital membuat informasi dapat diperoleh dengan sangat cepat. Bagi generasi muda, teknologi bukan lagi sesuatu yang asing. Smartphone dan media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan generasi yang dipersiapkan untuk memiliki kompetensi sesuai dengan dunia kerja. Oleh karena itu, selain memiliki keterampilan profesional, siswa juga membutuhkan karakter yang kuat. Dunia kerja tidak hanya membutuhkan seseorang yang mampu bekerja dengan baik, tetapi juga membutuhkan pribadi yang jujur, disiplin, bertanggung jawab, mampu bekerja sama, dan memiliki etika.
Dalam konteks tersebut, Pendidikan Agama Islam memiliki posisi yang sangat penting. PAI bukan sekadar mata pelajaran yang membahas hukum ibadah, ayat Al-Qur’an, hadis, atau sejarah Islam. Lebih jauh, PAI merupakan proses pendidikan yang diharapkan mampu membentuk manusia yang memiliki hubungan baik dengan Allah, sesama manusia, dan lingkungan.
Tantangan pendidikan saat ini adalah bagaimana nilai-nilai agama dapat hadir dalam kehidupan siswa yang semakin dekat dengan dunia digital. Seorang siswa mungkin mampu memahami pentingnya kejujuran ketika berada di kelas, tetapi apakah nilai kejujuran tersebut juga diterapkan ketika mengerjakan tugas menggunakan AI? Apakah siswa mampu melakukan tabayyun sebelum membagikan sebuah berita? Apakah siswa tetap menjaga sopan santun ketika memberikan komentar di media sosial?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran PAI perlu terus berkembang mengikuti perubahan zaman.
2. PAI dan Tantangan Generasi Digital
Generasi digital memiliki akses informasi yang sangat luas. Dalam hitungan detik, siswa dapat memperoleh berbagai informasi dari internet. Kondisi ini merupakan peluang sekaligus tantangan.
Informasi yang tersedia di internet tidak semuanya benar dan sesuai dengan nilai-nilai pendidikan. Siswa dapat menemukan berita palsu, ujaran kebencian, konten yang tidak mendidik, bahkan berbagai bentuk perilaku yang dapat memengaruhi karakter mereka. Karena itu, siswa perlu memiliki kemampuan untuk memilih, menyaring, dan menggunakan informasi secara bijaksana.
Islam sendiri mengajarkan pentingnya memeriksa kebenaran sebuah informasi. Prinsip tersebut dikenal dengan istilah tabayyun. Dalam QS. Al-Hujurat ayat 6, umat Islam diperintahkan untuk melakukan pemeriksaan terhadap informasi sebelum mengambil tindakan. Nilai tabayyun sangat relevan dengan kehidupan digital saat ini. Sebelum membagikan berita melalui WhatsApp, Instagram, TikTok, atau platform lainnya, seorang siswa perlu bertanya:
“Apakah informasi ini benar?”
“Apakah sumbernya dapat dipercaya?”
“Apakah membagikan informasi ini akan memberikan manfaat atau justru merugikan orang lain?”
Pertanyaan sederhana tersebut merupakan bentuk penerapan ajaran agama dalam kehidupan modern.
3. Membangun Etika Digital melalui Pembelajaran PAI
Etika digital dapat dipahami sebagai sikap dan perilaku yang baik ketika seseorang menggunakan teknologi dan berinteraksi di dunia maya. Nilai-nilai Islam memiliki hubungan yang sangat erat dengan etika digital. Beberapa nilai yang dapat dikembangkan melalui pembelajaran PAI antara lain:
a. Kejujuran
Kejujuran merupakan salah satu akhlak utama dalam Islam. Dalam dunia pendidikan, kejujuran dapat diterapkan melalui kebiasaan mengerjakan tugas secara mandiri dan tidak melakukan plagiarisme.
Pada era AI, tantangan kejujuran menjadi semakin kompleks. Teknologi AI dapat membantu siswa mencari ide dan memahami materi, tetapi penggunaannya perlu disertai tanggung jawab akademik. Siswa perlu memahami bahwa teknologi seharusnya menjadi alat bantu belajar, bukan sarana untuk menghilangkan proses belajar.
b. Tanggung Jawab
Setiap aktivitas digital meninggalkan jejak. Tulisan, komentar, foto, maupun video yang dibagikan dapat memberikan dampak kepada diri sendiri maupun orang lain. Karena itu, siswa perlu memahami bahwa kebebasan berekspresi harus disertai tanggung jawab. Jangan sampai sebuah komentar yang dianggap sebagai candaan justru menyakiti orang lain.
c. Kesantunan dalam Berkomunikasi
Islam mengajarkan umatnya untuk berkata baik. Prinsip ini dapat diterapkan dalam komunikasi digital. Siswa perlu memahami bahwa orang yang berada di balik layar tetap merupakan manusia yang memiliki perasaan. Perbedaan pendapat tidak harus berakhir dengan pertengkaran. Budaya komentar yang santun merupakan salah satu bentuk akhlak mulia di era digital.
d. Tabayyun
Kecepatan informasi sering kali membuat seseorang langsung percaya dan menyebarkan berita tanpa melakukan pemeriksaan. Melalui pembelajaran PAI, siswa dapat dilatih untuk membiasakan diri memeriksa sumber informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya.
e. Menjaga Kehormatan Orang Lain
Islam mengajarkan pentingnya menjaga kehormatan sesama manusia. Dalam kehidupan digital, hal tersebut dapat diterapkan dengan tidak menyebarkan foto, video, percakapan, atau informasi pribadi seseorang tanpa izin. Siswa juga perlu memahami bahwa membuat konten yang mempermalukan orang lain bukanlah bentuk hiburan yang baik.
4. PAI yang Dekat dengan Kehidupan Siswa SMK
Pembelajaran PAI akan lebih bermakna apabila materi yang diberikan memiliki hubungan dengan kehidupan peserta didik. Misalnya, ketika membahas materi akhlak, guru dapat mengajak siswa mendiskusikan kasus yang mereka temui di media sosial.
Ketika membahas kejujuran, siswa dapat diajak berdiskusi tentang penggunaan AI dalam mengerjakan tugas.
Ketika membahas tabayyun, siswa dapat diberikan contoh berita viral kemudian diminta mencari sumber informasi yang terpercaya.
Ketika membahas muamalah, siswa dapat diajak membicarakan etika berjualan secara online, melakukan transaksi digital, dan memberikan pelayanan kepada konsumen.
Dengan pendekatan seperti ini, PAI tidak lagi dipandang sebagai pelajaran yang hanya berbicara tentang teori agama, tetapi menjadi pembelajaran yang memberikan bekal kepada siswa untuk menghadapi kehidupan nyata.
5. Peran Guru PAI sebagai Teladan
Guru memiliki peran penting dalam pembentukan karakter siswa. Pendidikan karakter tidak cukup dilakukan melalui nasihat, tetapi juga melalui keteladanan. Guru PAI perlu menunjukkan bagaimana menggunakan teknologi secara bijak. Guru dapat menjadi contoh dalam berkomunikasi di media sosial, menggunakan sumber informasi yang terpercaya, menghargai perbedaan pendapat, serta memanfaatkan teknologi untuk pembelajaran.
Hubungan antara guru dan siswa juga perlu dibangun atas dasar komunikasi yang humanis. Siswa bukan hanya objek pembelajaran, tetapi individu yang sedang tumbuh dan membutuhkan pendampingan.
Guru PAI dapat menjadi sosok yang membantu siswa memahami bahwa menjadi seorang muslim di era digital bukan berarti menjauhi teknologi, tetapi mampu menggunakan teknologi dengan nilai-nilai Islam.
6. Implementasi di SMK Pawiyatan Surabaya
Dalam lingkungan SMK Pawiyatan Surabaya, penguatan karakter melalui PAI dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan sederhana dan kontekstual. Beberapa kegiatan yang dapat diterapkan antara lain:

Gambar 1. Siswa berdiskusi tentang maraknya penyebaran hoak di media sosial
- Diskusi kasus media sosial, dengan mengambil contoh permasalahan yang dekat dengan kehidupan siswa.
- Proyek kampanye digital positif, misalnya membuat poster atau video pendek tentang kejujuran, sopan santun, anti-bullying, dan tabayyun.
- Literasi informasi, yaitu melatih siswa membedakan informasi yang valid dan informasi yang belum terbukti kebenarannya.
- Refleksi penggunaan media sosial, dengan mengajak siswa mengevaluasi kebiasaan digital mereka.
- Etika penggunaan AI, dengan memberikan pemahaman mengenai penggunaan AI secara jujur, bertanggung jawab, dan tetap mempertahankan proses berpikir siswa.
- Pembiasaan akhlak, seperti berdoa sebelum kegiatan belajar mengajar berlangsung , mengucapkan salam, sopan santun, disiplin, menjaga kebersihan, menghargai guru dan teman, serta bertanggung jawab terhadap tugas.

Gambar 2. Siswa membuat video tentang adab seorang pelajar
Kegiatan tersebut dapat menjadikan pembelajaran PAI lebih aktif, relevan, dan dekat dengan kehidupan siswa.

Gambar 3. Kegiatan berdoa bersama sebelum kegiatan belajar dimulai
7. Kesimpulan
Perkembangan teknologi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan generasi muda. Oleh karena itu, pendidikan agama perlu hadir di tengah perubahan tersebut. Pendidikan Agama Islam di SMK memiliki peran strategis dalam membentuk siswa yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik dan keterampilan kerja, tetapi juga memiliki karakter dan akhlak yang baik.
Nilai kejujuran, tanggung jawab, tabayyun, kesantunan, menghargai sesama, dan menjaga kehormatan orang lain merupakan nilai-nilai Islam yang sangat relevan dengan kehidupan digital.
Pada akhirnya, tujuan pembelajaran PAI bukan sekadar membuat siswa mengetahui mana yang benar dan salah, tetapi membantu mereka memiliki kesadaran untuk memilih dan melakukan hal yang benar, baik ketika berada di sekolah, di tempat kerja, di lingkungan keluarga, maupun ketika berada di dunia digital.
Dengan demikian, teknologi dapat menjadi sarana untuk berkembang, bukan sumber masalah; dan generasi muda dapat tumbuh menjadi generasi yang cerdas secara digital, kuat secara karakter, serta berakhlak mulia.
Daftar Pustaka
Al-Qur’an.
Kementerian Agama Republik Indonesia. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Kementerian Agama RI.
Majid, Abdul. Belajar dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nata, Abuddin. Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia. Jakarta: Rajawali Pers.
Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.