Open Recruitment !

Peremajaan 40 Meja Kursi Baru Untuk Siswa

Info Uji Kompetensi Keahlian (UKK)

Monitoring Prakerin Jurusan DKV Semester Ganjil TA 2023-2024

Kegiatan Monitoring Siswa DKV ini dilaksanakan di Di Smile Digital Print , BoyNet Printing, Kami Digital, Alfira Tour & Travel, Pulsa 21 dan di Pengadilan Negeri Surabaya

 

Kotak Berpassword Karya Rhama Damar Wijaya kelas X RPL

 

Lagi-lagi dari ekstrakurikuler Robotik SMK Pawiyatan menciptakan karya bermanfaat. Kali ini membuat kotak berpassword. Fungsi dari alat ini bisa diimplementasikan sebagai brankas/ kotak penyimpan barang-barang berharga yang mana sekurity sistemnya dibuat secara elektronik. Secara mekanikal Rhama (Rhama Damarwijaya pembuat kotak berpassword) memanfaatkan motor servo untuk menggerakkan kait pengunci pintu. Kait bisa terbuka jika dimasukkan password yang benar melalui keypad dan terdisplay oleh LCD. Kedepan program aplikasinya akan dilengkapi dengan fitur-fitur sekuriti yang lebih lengkap, misalnya dengan sistem otorisasi, pencatatan log

Menjaga Keseimbangan Antara Akademis dan Kesejahteraan Emosional

Menjaga Keseimbangan Antara Akademis dan Kesejahteraan Emosional

Oleh Ahmad Arifin, S.Kom

Pendidikan menengah kejuruan bukan hanya tentang akademis semata, melainkan juga mengenai pembentukan individu secara holistik. Keseimbangan antara prestasi akademis dan kesejahteraan emosional memainkan peran krusial dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan produktif bagi siswa. Inilah mengapa penting untuk memahami, mendorong, dan menjaga keseimbangan ini agar siswa dapat berkembang secara optimal dalam segala aspek kehidupan mereka.

Kesejahteraan Emosional sebagai Fondasi Pendidikan

Kesejahteraan emosional tidak hanya menjadi elemen pendukung dalam pendidikan, tetapi juga fondasi bagi pencapaian akademis yang berkelanjutan. Siswa yang merasa aman, diterima, dan didukung secara emosional cenderung memiliki fokus yang lebih baik dalam belajar dan mencapai prestasi yang lebih tinggi.

Tantangan dan Tekanan dalam Lingkungan Pendidikan

Pendidikan kejuruan sering kali diwarnai oleh berbagai tantangan, seperti ujian, tugas, praktikum dan harapan tinggi. Tekanan ini dapat berdampak negatif pada kesejahteraan emosional siswa. Oleh karena itu, perlu ada kesadaran bersama dari pihak sekolah, guru, dan orang tua untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan emosional positif.

Menciptakan Lingkungan Belajar yang Mendukung

  1. Pengembangan Keterampilan Kesejahteraan Emosional:

Siswa perlu diberdayakan dengan keterampilan untuk mengelola stres, kecemasan, dan tekanan. Program pembelajaran yang mencakup teknik relaksasi, manajemen emosi, dan kecerdasan emosional dapat membantu menciptakan landasan yang kuat untuk kesejahteraan emosional.

  1. Pembinaan Hubungan

Hubungan yang Positif:

Bangun hubungan yang positif dan saling percaya antara guru dan siswa untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung.

  1. Kegiatan Menyenangkan dan Menarik

Pembelajaran yang Menarik:

Desain pembelajaran yang menarik dengan menggunakan metode dan materi yang sesuai dengan minat siswa.

  1. Pemberdayaan dan Pertisipasi

Berikan Tanggung Jawab:

Berikan tanggung jawab kepada siswa dalam kegiatan kelas atau proyek, memberikan rasa kepemilikan dan tujuan yang jelas.

  1. Penekanan pada Keterampilan Sosial:

Pelatihan Keterampilan Sosial:

Sertakan pelatihan keterampilan sosial dalam program pembelajaran untuk membantu siswa berinteraksi dengan baik dengan teman sebaya dan guru.

  1. Penekanan pada Kreativitas:

Proyek Kreatif:

Dorong proyek-proyek kreatif yang memungkinkan siswa mengekspresikan diri mereka dengan cara yang konstruktif.

  1. Peningkatan Kemandirian:

Pertumbuhan Mandiri:

Berikan tugas yang memungkinkan siswa untuk mengatasi tantangan secara mandiri, meningkatkan rasa percaya diri.

  1. Pemberian Penghargaan Positif:

Reinforcement Positif:

Berikan penguatan positif sebagai penghargaan untuk perilaku yang diinginkan, memberikan insentif bagi siswa untuk berubah.

  1. Fleksibilitas dalam Pembelajaran:

Pendekatan Fleksibel:

Gunakan pendekatan pembelajaran yang fleksibel, menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhan individual siswa.

  1. Mendorong Refleksi:

Pertemuan Reflektif:

Selenggarakan pertemuan reflektif untuk membahas perkembangan siswa, memberikan mereka kesempatan untuk mengevaluasi dan merencanakan perubahan.

  1. Konseling dan Dukungan Psikologis:

Pihak sekolah sebaiknya menyediakan layanan konseling dan dukungan psikologis untuk siswa yang memerlukan bantuan ekstra. Melibatkan ahli kesehatan mental dapat menjadi langkah proaktif dalam mendukung kesejahteraan emosional di sekolah.

  1. Pemahaman dan Empati:

Ketahui Latar Belakang:

Pahami latar belakang siswa, tantangan, dan kebutuhan mereka. Ini membantu dalam mengidentifikasi pemicu perilaku yang mungkin.

  1. Konseling dan Dukungan Emosional:

Layanan Konseling:

Sediakan layanan konseling untuk membantu siswa dalam mengatasi masalah emosional dan perilaku.

  1. Pengelolaan Kecanduan Gadget:

Waktu Pantau Gadget:

Tentukan waktu yang ditentukan untuk penggunaan gadget dan pastikan siswa memahami batas-batas tersebut.

  1. Pengelolaan Kemarahan:

Strategi Pengelolaan Kemarahan:

Ajarkan strategi pengelolaan kemarahan, seperti teknik pernapasan atau jeda sejenak untuk meredakan emosi.

  1. Dukungan dari Orang Tua:

Kerjasama dengan Orang Tua:

Libatkan orang tua dan keluarga dalam mendukung perubahan perilaku siswa. Komunikasi terbuka sangat penting.

Integrasi Keseimbangan dalam Kurikulum

  1. Pelajaran tentang Kesejahteraan Emosional:

Perlu ada integrasi pelajaran kesejahteraan emosional dalam kurikulum akademis. Ini dapat mencakup topik seperti manajemen stres, pemahaman emosi, dan pentingnya menjaga keseimbangan hidup.

  1. Aktivitas Ekstrakurikuler yang Menyehatkan:

Aktivitas di luar kelas, seperti seni, olahraga, dan klub sosial, dapat menjadi sarana bagi siswa untuk melepaskan tekanan dan mengeksplorasi minat mereka, mendukung kesejahteraan emosional.

Peran Orang Tua dalam Mendorong Keseimbangan

Orang tua memiliki peran penting dalam mendukung keseimbangan antara akademis dan kesejahteraan emosional. Komunikasi terbuka, pemahaman terhadap tekanan yang dihadapi anak, dan memberikan dukungan emosional dapat membantu menciptakan lingkungan rumah yang mendukung.

Kesimpulan

Menciptakan keseimbangan antara akademis dan kesejahteraan emosional bukan hanya tanggung jawab sekolah, melainkan tugas bersama antara guru, orang tua, dan komunitas pendidikan. Dengan memberikan perhatian yang seimbang terhadap aspek akademis dan emosional, pendidikan kejuruan dapat menjadi fondasi yang kokoh bagi perkembangan pribadi dan prestasi siswa. Keseimbangan ini bukan hanya kunci sukses akademis, tetapi juga investasi dalam kesejahteraan jangka panjang siswa.

Jebol Anduk Goes To School SMK Pawiyatan

Pelayanan administrasi kependudukan (Adminduk) di Kota Surabaya kian mudah dan terjangkau, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) telah menyediakan armada jemput bola untuk warga Kota Pahlawan. Armada yang dijuluki Jebol Anduk (Jemput Bola Administrasi Kependudukan) ini, disediakan di kantor kecamatan terdekat untuk mempercepat pengurusan adminduk. pelayanan Jebol Anduk itu juga akan disediakan untuk siswa dan guru SMK Pawiyatan

Generasi Gen Z dan Tantangan Tanpa Life Skill

Generasi Gen Z dan Tantangan Tanpa Life Skill

Menyoroti Kekhawatiran dan Solusinya

(Oleh Ahmad Arifin S.Kom)

 

Generasi Gen Z,  kelompok anak-anak yang lahir antara tahun 1995-an hingga awal 2011-an yang tumbuh di tengah kemajuan teknologi dan dinamika global, sering dihadapkan pada tantangan unik yang dapat mempengaruhi pengembangan life skill mereka. Sayangnya, beberapa anak dari generasi ini mungkin mengalami kekurangan dalam penguasaan keterampilan hidup yang esensial. Artikel ini akan menyoroti kekhawatiran terkait serta menawarkan solusi untuk membantu anak-anak Gen Z mengembangkan life skill yang penting.

 

Kekhawatiran Terkait Kurangnya Life Skill

  1. Ketergantungan pada Teknologi

Anak-anak Gen Z sering kali terlalu terpaku pada teknologi, menghabiskan waktu yang berlebihan di media sosial dan perangkat elektronik (gagdet). Hal ini dapat menyebabkan kurangnya interaksi sosial langsung dan kemampuan komunikasi.

Penggunakan gagdet yang berlebihan ,anak-anak Gen Z seringkali merasa terbebani oleh jumlah besar informasi yang mereka hadapi setiap hari. Mulai dari, berita, hingga konten media sosial, mereka mungkin kesulitan memproses semuanya secara efisien, menyebabkan kelelahan mental,stres dan perilaku yang mudah marah serta mudah tersinggung. Apalagi semakin pesatnya perkembangan Artificial intellegence (kecerdasan buatan) membuat anak-anak semakin betah menggunakan gagdetnya dan semakin sulit melepaskan ketergantungannya terhadap gagdet. Mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam dimalam hari bahkan hingga menjelang subuh hanya untuk melihat reel video, short video yang sudah didesain dan disajikan sesuai keinginan mereka.

Kebiasaan ini memungkinkan anak-anak Gen Z dengan cepat menangkap informasi dan seringkali cenderung membandingkannya dengan kehidupan mereka sendiri. Hal ini dapat menciptakan tekanan untuk mencapai standar yang mungkin tidak realistis, memicu perasaan tidak memadai dan rendah diri.

  1. Ketidakmampuan Mengatasi Tantangan

Beberapa anak Gen Z mungkin kurang terlatih dalam mengatasi kesulitan dan problem-solving. Keterbiasaan menggunakan solusi cepat dan hiburan instan bisa menghambat pengembangan ketekunan dan kreativitas.

Beberapa contoh nyata sering kita dapatkan seperti seorang anak yang selalu berprestasi (mendapatkan rangking teratas) dari mulai SD hingga Kuliah. Tetapi susah mendapatkan pekerjaan setelah lulus kuliah karene dia tidak tau bagaimana mengatur waktu dan hidup mandiri.

Atau contoh lain anak yang baru lulus kuliah dan melamar pekerjaan tetapi saat diberitahu bahwa dia diterima dia malah mengatakan : “Tunggu dulu, saya harus memberi tau orang tua dulu apakah boleh bekerja di sini atau tidak.”

Anak-anak yang berteriak “kelaparan” saat ditinggal pergi orang tuannya padahal di dalam kulkas (lemari pendingin) penuh dengan bahan makanan.

Apakah mereka salah? Itu adalah hasil dari pengalaman hidupnya. Hanya itu saja yang selama ini ia saksikan hidup yang semua serba beres, cepat dan instan. Maka, begitu berhadapan dengan situasi yang berbeda, ia akan berusaha mengambil sesuatu dari bank ingatannya.

Mari kita perhatikan latar belakang mereka. Tiap pagi mereka dibangunkan untuk berangkat ke sekolah. Agar tidak terlambat, ibu membantu menyiapkan peralatan sekolah, mulai buku, baju, sepatu,  tas hingga kunci motor, bahkan ayah sudah menyiapkan motornya dan memastikan isi bensin tidak habis sehingga tidak terlambat ke sekolah. Fokus utama sebagai orangtua cenderung hanya ke sekolah. Berhasil memastikan anak-anak tidak terlambat ke sekolah. Orang tua puas dengan mendapat nilai-nilai akademik yang tinggi. Jadi bertahun tahun sekolah mereka selalu dibangunkan pagi, selalu diingatkan dan selalu diingatkan agar tidak tidur kemalaman. Jadi sampai hari inipun mereka belum mempunyai managemen skill ?  Bagaimana dia mengatur waktu ?

Pendidikan kecakapan hidup (life skill) dimulai dari rumah, bersama dengan orang tua. Tidak ada lagi bapak mencuci motor, ibu mencuci piring, anak rebahan dikamar dengan gadgetnya. Setidaknya ada 6 skill yang dipelajari seiring tumbuh kembangnya anak bersama dengan orang tua, yaitu

  1. Kemampuan berkomunikasi
  2. Mengelola emosi
  3. Beradaptasi
  4. Kreativitas
  5. Memecahkan masalah
  6. Mengambil keputusan.

 

Anak-anak yang terlanjur dengan kondisi tanpa life skill. Mereka mempunyai pengalaman hidup yang kosong, mager (malas gerak), dan tidak kreatif, pasrah dengan apa yang akan terjadi nanti. Sekolah menjadi kambing  hitam, posisi sekolah menjadi tempat yang serba salah. Proses KBM tidak bisa berjalan dengan semestinya. Kondisi siswa di dalam kelas menjadi kelas yang tidak bersemangat, tidak menarik dan ngantuk. Sekolah mendapati fisik fisik yang lemah, tidak bersemangat dan kurang tidur.

  1. Kurangnya Keterampilan Sosial

Interaksi fisik yang terbatas dan lebih banyak waktu dihabiskan di dunia maya bisa merugikan perkembangan keterampilan sosial mereka. Hal ini dapat memengaruhi kemampuan mereka untuk bekerja sama dan berkomunikasi dalam situasi kehidupan nyata.

 

Solusi untuk Mengatasi Tantangan

  1. Pengelolaan Waktu dan Pemantauan Konten Online

Orangtua dan pendidik perlu terlibat aktif dalam mengelola waktu anak-anak Gen Z dan memastikan mereka terpapar pada konten yang mendukung pembelajaran positif. Menyediakan batasan waktu untuk penggunaan perangkat elektronik dan memotivasi mereka untuk berpartisipasi dalam kegiatan di dunia nyata dapat membantu mengurangi ketergantungan pada teknologi.

  1. Stimulasi Kreativitas Melalui Aktivitas Off-line

Mendorong anak-anak Gen Z untuk terlibat dalam aktivitas off-line seperti seni, olahraga, atau proyek kreatif dapat merangsang perkembangan kreativitas dan inovasi. Ini juga dapat membantu mereka memahami pentingnya kerja keras dan ketekunan dalam mencapai tujuan.

  1. Pengembangan Keterampilan Sosial Melalui Kegiatan Kelompok

Pendidik dan orangtua dapat mengorganisir kegiatan kelompok yang melibatkan interaksi sosial. Ini bisa termasuk proyek kolaboratif di sekolah atau kegiatan sukarela bersama teman-teman. Melalui pengalaman langsung, anak-anak Gen Z dapat belajar berkomunikasi, bekerja sama, dan mengembangkan keterampilan sosial.

  1. Pelatihan Keterampilan Hidup Sehari-hari

Melibatkan anak-anak Gen Z dalam tanggung jawab sehari-hari seperti merencanakan waktu, mengelola uang saku, atau melakukan pekerjaan rumah tangga dapat membantu mereka mengembangkan keterampilan hidup yang praktis.

 

Kesimpulan

Sementara generasi Gen Z memiliki keuntungan dalam akses teknologi, perlu diakui bahwa mereka juga dapat menghadapi tantangan dalam pengembangan life skill. Melalui keterlibatan aktif dari orangtua, pendidik, dan masyarakat secara keseluruhan, kita dapat membantu anak-anak Gen Z mengatasi hambatan ini dan memberikan fondasi yang kokoh untuk masa depan mereka. Dengan fokus pada keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan nyata, kita dapat memastikan bahwa mereka tumbuh menjadi individu yang komprehensif dan tangguh.

Jadwal Sholat Dhuhur Berjamaah Januari 2024